Wabah Corona: ”Katalis Menuju Era Baru”

Jakarta, aspirasipublik.com – Dilihat dari  satu sisi pandang Wabah Corona merupakan  hal yang menakutkan tapi berbeda dengan para pengusaha yang selalu melihat dari sisi pandang yang berbeda.  

Hal ini terlihat dari gambaran umum bincang Online Himpunan Pengusaha dan Wiraswasta Indonesia (HIPWI) KB FKPPI ke empat, hari selasa tanggal 19 Mei 2020 dengan  Pembicara: Candra Darusman seorang seniman dan sekaligus Ketua Umum Federasi Serikat Musisi Indonesia  (FESMI), dipandu dengan baik oleh Toro Sudarmadi  selaku Ketua Umum HIPWI  KBFKPPI dan dimoderatori oleh Aminullah selaku Wakil Sekjen KB FKPPI dan menghadirkan Mahavira  Wisnu Wardhana selaku pemantik Acara webinar dengan Judul   Wabah Corona: “Katalis Menuju Era Baru”

Acara berlangsung secara daring, baik dan sangat interaktif  dan dihadiri  juga oleh beberapa musisi ,  pengurus KB FKPPI dan unsur pendukungnya, turut hadir  dan menjadi  narasumber, Bung Ferdiansah dari DPR RI komisi X yang juga merupakan kader FKPPI, Gilang Ramadhan, Tetty Kadi Penyanyi senior dan kader FKPPI Jabar, Wakil Walikota Bandung Bung Yana Mulyana, musisi muda Indra Sinaga.

iBincang online hari ini  membahas dunia industri Permusikan yang tentu saja sangat merasakan dampak dari pandemi covid-19 dengan tidak mengadakan pertunjukkan karena PSBB dan hal lain terkait pandemi.

Ekonomi Kreatif (Ekraf)  merupakan salah satu sektor yang diharapkan mampu menjadi kekuatan baru ekonomi nasional di masa mendatang. Salah satu aspek penting dalam pengembangan Ekonomi Kreatif  yang memiliki 16 subsektor adalah ketersediaan data dan informasi statistik yang menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan serta keputusan, baik bagi pemerintah maupun pelaku Ekonomi Kreatif.

Permasalahannya pendataan ini masih sangat lemah , dan terakhir data yang dimiliki Ekraf adalah data tahun 2016. Pada data tersebut  industri permusikan memiliki potensi nomer dua dari subsistem yang sedang berkembang dengan pesat yaitu sebesar 7,27 %. Menurut Ferdiansah, Perlu adanya reformulasi industri permusikan dan sektor pariwisata. Lebih lanjut disampaikan Ferdiansah bahwa Industri permusikan Indonesia,  HAKI belum membahas sampai pada pengelolaannya, sehingga masalah Hak cipta dan Royalti belum dapat sepenuhnya dinikmati oleh para pemusik Indonesia, di sini Hipwi FKPPI dapat menjadi jembatan untuk membantu membahas bersama-sama kami sehingga hal-hal yang harusnya menjadi hak para pemusik dapat dinikmati sebagimana seharusnya.

Hal ini diperkuat oleh bung Mahvira Wisnu Wardhana yang akrab dipanggil bung Inu, yang secara kebetulan juga adalah putra Teteh  Tetty Kadi. Menurutnya pada situasi pandemiK covid-19 ini ada dua tren yang berbeda, disatu sisi terjadi penurunan yaitu disisi pertunjukan musik pagelaran, tetapi di sisi lain tumbuh dengan pesat yaitu industri  permusikan dengan media teknologi bahkan tumbuh hingga mencapai 40 %, hal ini karena adanya kebutuhan mendengarkan  musik di rumah, dan muncul artis atau penyanyi independen, yang tidak terlalu sulit, hemat budget, cepat terkenal asalkan mampu membawa sesuatu yang baru, yang menarik. Teknologi digital seperti Youtube, IG, Facebook Live, Tik tok, telah merubah wajah industri permusikan.

Pertunjukan permusikan dan ini terlihat dengan jelas adanya tren yang dulunya teknologi digital tersebut hanya diminati olah generasi muda usia 16-30 tahuh, saat ini merambah pada mereka yang berusia 30-45 tahun. Di sini terjadi percepatan tranformasi teknologi pada industri musik.

Selanjutnya ada pandangan yang menarik dari Bung Chandra Darusman, mengartikan tema bincang online siang tadi yaitu Katalis dimana kita orang – orang industri permusikan dan orang – orang umum menghadapi situasi saat ini harus mampu “berhidjrah” seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad yaitu berhidjrah dari Mekah ke Madinah. Dalam industri  permusikan  tidak ada yang dapat menggantikan pagelaran music secara live, karena ada suasana, ada kehadiran, ada satu event. Hal ini tidak dapat digantikan, dan untuk itu kita perlu melakukan 3 hal untuk dapat menerima dengan baik, dan suatu saat nanti kembali melakukan konser dengan wajah baru yaitu: 1. Menerima terjadinya  perubahan dari fhisik ke digital melalui platform yang tersedia, ini merupakan gerakan perubahan migrasi. Meskipun masih ada kendala ketidaksiapan insfrastruktur khususnya pada industri musik. 2. Merespon erjadinya  percepatan perubahan dalam penggunaan  produk –produk import, yang ditengarai mulai kembali menggunakan produk lokal , di sini dituntut kemampuan melakukan inovasi –inovasi. 3. Menyadari telah terjadi perubahan perilaku yang sebelumnya individual, menjadi hidup bergotong Royong atau dalam Bahasa lainnnya berkolaborasi.

Pada awal – awal diberlakukan PSBB, banyak orang –orang melakukan streaming (mencari) lagu – lagu untuk menghibur diri, namun pada bulan mei ini mulai berkurang dan orang cenderung mendengarkan lawak untuk menghibur diri.  Pada era distrupsi ini selalu saja ada dua hal yang terus mengikuti siap dan tidak siap, nah persoalan yang terjadi pada kita ketidak siapan ini akibat ulah kita sendiri yang tidak berdisiplin dengan baik. Di sisi lain Indonesia akan menerima bonus demografi yang puncaknya pada tahun 2034, generasi milenial yang memiliki karakter mandiri, tidak bergantung, memiliki rasa kebangsaan yang baik dan memiliki jiwa wirausaha dan berwirausaha, harus diterima dengan baik olah orang – orang yang lebih tua, jadi harus saling respek.

Ada perkembangan yang kurang menguntungkan sebenarnya dalam industri permusikan yaitu over supply, sehingga terjadi persaingan yang sangat luar biasa , ditambah sisi lain adanya samudera internet yang kita tidak mampu mengukurnya. Untuk dapat kembali survival harus kembali kepada culture atau budaya bangsa sendiri untuk bersama sama

Disela sela diskusi, Gilang Ramadhan yang hadir dalam bincang online menyampaikan betapa senangnya bisa bergabung di acara ini yang dihadiri oleh pengurus hipwi dari seluruh Indonesia (Pusat dan Daerah), Gilang yang sering membantu  pemusik tradisional untuk tetap dapat eksis , menyampaikan bahwa situasi saat ini tidak mudah buat mereka karena ada gap terhadap perkembangan teknologi, sementara musik – musik tradisional memiliki nilai yang sangat tinggi, apalagi jika mereka melakukan kegiatan di luar negeri, yang menjadi persoalan adalah masalah HAKI dan Royalti, nah semestinya Indonesia yang terdiri dari 33 propinsi ini setiap daerah atau pemerintah daerah memiliki perhatian yang baik terhadap hal ini. Yang kemudian disambut positif oleh Kang Yana Ketua PD X Jawa Barat yang saat ini menjabat sebagai wakil walikota, menurutnya pemerintah daerah dapat melakukan sosialisasi kepada para pemusik tradisional bahwa ada hak mereka di sana berupa Haki dan Royalti. Menutup diskusi Ketua Umum Toro Sudarmadi menyampaikan bahwa HIPWI yang tersebar di seluruh Indonesia pada 33 propinsi memiliki peluang yang sangat baik dalam menggairahkan industri permusikan Indonesia melalui percepatan teknologi.  Lembaga Manajeman Kolektif seperti dituturkan bung Chandra akan dapat membantu permasalahan para musisi dari permasalaha Haki dan Royalti untuk dapat terus eksis harus mampu melakukan kreativitas dan inovasi sehingga produk yang ditampilkan adalah sesuatu yang benar – benar berbeda unik dan menarik termasuk cara membungkus produknya. (Disampaikan oleh Herawati – Poltak  Aspirasi Publik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: