Program Diklat Harus Bisa Beradaptasi dengan Era New Normal

NEW normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktifitas normal, tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan virus

Bandung, aspirasipublik.com – Indonesia memasuki keadaan new normal di mana kebiasaan lama dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan tidak bisa lagi menjadi patokan. Pemerintah sendiri telah melakukan berbagai penyesuaian pada era new normal saat ini.

Foto: Prof. Dr. Sedarmayanti (Guru Besar Unitomo dan dosen STA LAN Bandung)

Dalam konteks demikian, e-learning sebagai pendukung proses pembelajaran sejatinya juga dapat diterapkan dalam program pendidikan dan pelatihan atau diklat. E-learning memiliki keunggulan-keunggulan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pendidikan & latihan diklat pada era new normal.

Demikian disampaikan praktisi dan pakar manajemen pembelajaran Djadja Ahmad Sardjana dalam perbincangan di Bandung, akhir pekan lalu. Pada Senin 15 Juni 2020 ini, Sekolah Tinggi Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN) Bandung bekerjasama dengan Dataquest Leverage Indonesia menggelar Webinar dan Bedah Buku bertajuk “Perencanaan, Pemantauan, dan Evaluasi Diklat” yang ditulis Prof Dr Sedarmayanti (Guru Besar Unitomo dan dosen STA LAN Bandung) dan Drs Sabar Gunawan, MA (dosen STIA LAN).

“New normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktifitas normal, tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan virus.  New normal dengan menerapkan protokol kesehatan bukan berarti kembali hidup dalam keadaan sebelum pandemi terjadi,” ungkap Djadja.

Ia menambahkan, proses diklat yang dijalankan berbagai lembaga atau organisasi, terutama lembaga pemerintah, juga dapat beradaptasi dengan era now normal.  “Diklat memiliki tujuan meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika sesuai dengan kebutuhan instansi atau institusi. Dengan diklat diharapkan tercipta aparatur atau staf yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menambahkan, diklat bertujuan untuk memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang beorientasi pada pelayanan, pengayoman, dan pemberdayaan masyarakat. Pada akhirnya, peningkatan kualitas aparatur melalui diklat bertujuan untuk dapat menciptakan pemerintahan yang baik (good governance).

“Namun demikian, sistem diklat yang banyak dilakukan saat ini memiliki beberapa kelemahan. Diklat yang ada baru berfokus pada diklat penjenjangan (kepemimpinan). Diklat teknis dan fungsional belum ditangani dengan baik. Selain itu, training needs belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan pola diklat yang sistemik dan berbasis kompetensi,” ungkap Djadja.

Lebih jauh disampaikan, e-learning sebagai pendukung proses pembelajaran juga dapat diterapkan dalam diklat. E-learning memiliki keunggulan-keunggulan yang dapat digunakan pada kondisi normal baru. Persaingan di era globalisasi membutuhkan tingkat produktivitas yang tinggi, pengetahuan yang luas serta  profesional. Praktik pelatihan konvensional tidak mampu menyediakan pelatihan yang dibutuhkan secara efektif, karena keterbatasan waktu, tempat, jumlah instruktur,  fasilitas, dan lain-lain.

Di negara maju, sistem e-learning telah diaplikasikan oleh berbagai instansi, termasuk institusi pemerintah. Dengan sistem e-learning proses belajar-mengajar dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun (anywhere, anytime & anyplace) selama memiliki akses ke website (internet).

Sementara itu Prof Sedarmayanti mengungkapkan, buku yang ditulis bersama mitranya diharapkan menjadi rujukan dalam aspek pelaksanaan, pemantauan, dan evalusi prograsi pembelajaran termasuk diklat. “Pengintegrasian pendidikan dan pelatihan memerlukan proses pemantauan dan evaluasi menyeluruh, sehingga tujuan dari diklat itu sendiri dapat dipastikan tercapai. Bagi organisasi diklat memiliki peran penting dalam upaya menerapkan nilai-nilai organisasi serta kultur yang ada di dalamnya,” katanya. (Joko Susilo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: