Musyawarah Dua Ahli Waris Tanah, Dan TPU Pondok Kelapa Berjalan Tertib

Jakarta, aspirasipublik.com – Bermula dari temuan awak media AP, dengan berdirinya sebuah plang lahan di wilayah Kp. Rawadas RT. 02/03 Kel.Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis 16/07/20 pukul 10.20 wib.

Plang tersebut bertuliskan,”Tanah milik Miin Bin Amit. Girik C No.345 PSL 41 D.1 Luas +-8000m2.

Pengacara: Molkam Frans Bowu SH & Associates. Phone. 021.5596197, Hp: 0822 2386 6699. Plang tersebut berdiri ditancapkan oleh keluarga ahli waris Miin Bin Amit, sekitar dua Minggu yang lalu. Tujuannya adalah, Ahli Waris Miin Bin Amit ingin menunjukan kepada Pemerintah, bahwa tanah seluas 8. 000 M2, dinyatakan belum pernah dijual kepada pemerintah, dalam hal ini adalah, Dinas Pemakaman dan Kehutanan Provinsi DKI Jakarta.

Dan Ahli Waris Miin Bin Amit, mempercayakan kepada Kantor Pengacara Molkam Frans Bowu & Associates, yang beralamat di daerah Tangerang.

Jadi untuk selanjutnya kepada siapapun yang berurusan dengan Lokasi Tanah tersebut, silahkan menghubungi di nomor telpon 021. 5596197 dan HP. 082223866699.

Karna Ahli Waris Miin Bin Amit, sudah dilarang bicara untuk memberikan keterangan apapun kepada siapapun.

Lalu kami dari awak media AP, coba mencari informasi dengan menggali keterangan kepada Instansi yang terkait didalamnya.

Pertama-tama kami menyambangi Kasatpel TPU Pondok Kelapa, Effendi Sianturi. Kami ingin menanyakan sudah  sejauh mana Sikap dan tindakan apa, yang sudah diambil sehubungan dengan adanya Plang yang berdiri sebagai Claim dari Ahli Waris Miin Bin Amit kepada Pemerintah.

Lalu Effendi Sianturi menjabarkan, “Dengan adanya Plang Klaim dari Ahli Waris itu, dia telah memanggil ke Kantor TPU untuk musyawarah.

Diantaranya senior Ahli Waris dari Miin Bin Amit, yakni Bapak. Usa, Samin, dan yang lainnya seperti keponakan adalah Bapak Oman, Ada Supriada. Mereka diundang namun tidak ada yang datang memenuhi undangan, ada saksi yang sangat paham lokasi, H. Kemis dan Udin. Pengacara Ahli Warispun diundang untuk musyawarah, namun beliau juga tidak datang.

Dan dikatakan oleh Kasatpel, bahwa berdasarkan Surat Pelepasan Hak (SPH) Tahun 1982, sudah ada Tanah-tanah yang dibebaskan oleh Dinas Pemakaman DKI Jakarta. Secara rincinya, daftar sudah tersimpan di Arsip Dinas Pemakaman DKI Jakarta.

Namun Claim dari keturunan Ahli Waris Miin Bin Amit, mengatakan kalau tanah seluas 8000 meter, belum pernah dijual kepada siapapun, temasuk kepada Dinas Pemakaman DKI Jakarta. Hal itu dikuatkan oleh Lembaga Pengacara yang melindunginya.

Ditambahkan oleh Effendi Sianturi, dirinya mewakili Pemerintah, mengatakan akan mengurus tuntas masalah lahan-lahan yang sudah menjadi milik Dinas Pemakaman.

Selain itu dikatakannya, ternyata antara Miin Bin Amit adalah Kakak beradik dengan Simar Bin Amit yang memiliki tanah  seluas Dua hektar, memiliki fotocopi Girik No.334 dan Miin Bin Amit  miliki Girik No.345 dengan luas 8000 meter.

Dan Ahli Waris Simar Bin Amit, yang berjumlah dari 13 orang, 4 orang sudah Almarhum/Almarhumah, dan yang yang masih hidup sebanyak 9 orang.

Yang tertua adalah Bapak Jamat usia 61 tahun, yang mewakili bicara adalah Saman (35 tahun). Ahli waris lainnya ada, Enan, Irsam, Icin, dan Uting. Mereka dari ahli waris Simar Bin Amit, bersikap Pro-aktif kepada Pemerintah.

Bukti sikap dari proaktifnya adalah, mau memenuhi undangan musyawarah dan mau menunjukan batas-batas tanah yang masih dimilikinya dan batas-batas tanah yang sudah dijual kepada pemakaman.

Lalu kami coba menyambangi Kantor Lurah Pondok Kopi untuk konfirmasi.

Bertemu dengan Lurah Pondok kopi, Rasikin untuk menanyakan kepadanya sehubungan dengan adanya Plang Klaim atas tanah miliki Miin Bin Amit seluas 8.000 dengan No. Girik 345.

Lurah Pondok Kopi Rasikin menjelaskan, “Bahwa akan dikumpulkan dua Ahli Waris, Simar dan Miin Bin Amit, serta Dinas Pemakaman untuk bermusyawarah.

Pada esoknya Jum’at 17/07/20 pukul 14.00 diundang untuk hadir di Kantor kelurahan Pondok Kopi, ternyata yang datang memenuhi undangan hanya Ahli Waris Simar Bin Amit sebanyak 4 orang, saksi fakta, H. Kemis, Udin, dan Kasatpel TPU, Effendi Sianturi, dan 3 orang awak media.

Musyawah dibuka oleh Lurah, isi dari apa yang disampaikan oleh lurah adalah, Mengajak bermusyawarah dalam persoalan apapun, apalagi ini masalah tanah Ahli Waris bersaudara/kakak beradik. Untuk itulah Rasikin, butuh adanya penunjukan lokasi sebagaimana yang di klaim oleh masing-masing ahli waris.

Tanpa dukungan dan kerjasama antara ahli waris, dan Pemerintah, semuanya tidak akan tercipta hasil yang baik.

Untuk itulah diminta masing-masing Ahli Waris, harus bisa menahan diri untuk tidak emosi, tidak terprovokasi dari pihak manapun.

Selanjutnya untuk mempercepat waktu, diminta untuk hadir lagi pada hari Sabtu tanggal. 18/07 Pukul 11.00 untuk Cek lokasi menunjukan mana batas-batas tanah yang masih dimiliki oleh Ahli waris, dan mana yang sudah dijual kepada pemerintah.

Terlihat keluarga ahli waris Simar Bin Amit, semangat untuk menunjukan batas-batasnya.

Namun dari Ahli Waris dari Miin Bin Amit, tidak ada yang turun ke lokasi.

Saat cek Lokasi ada, Lurah Pondok Kopi, Rasikin, Kasatpel TPU, Effendi.S, Ahli waris Simar (6 orang), Udin, Pamdal TPU 2 orang.

Yang tidak hadir, Iptu Saefudin Bimaspol Pondok Kopi, dan H. Kemis saksi fakta lokasi.

Musyawarah dan Cek Lokasi belum berakhir, masih ada pertemuan yang akan disusun dalam waktu secepatnya.

Untuk itulah Lurah akan mengundang seluruh element yang bersangkutan dengan lahan-lahan pemakaman, seperti, Dua ahli waris, Saksi-saksi, Unsur Pemerintah,  dan Pengacara.

Ahli waris Simar, nampak sangat terkejut, melihat tanah disrobot oleh orang-orang yang mengaku-ngaku miliknya.

Dan orang-orang yang tidak bertanggungjawab itu, mengontrakkan lahan tersebut kepada Bos-bos Pemulung, dengan nominal lumayan besar.

Melihat seperti itu, ahli waris Simar, akan mensomasi orang-orang yang telah merampas tanahnya, dan menunutut secara hukum atas penyerobotan tanah milik orangtuanya. Dikatakan oleh Ahli waris tertua, Jamat dan termuda Saman, mengenai identitas dari orang – orang mengontrakkan lahan, sudah dikantongi nama – nama orang tersebut. (Agus K)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: