Warga Terdampak Proyek Kereta Cepat Di Jalan Karang Kamulyan – Bandung Merasa Teraniaya

Jakarta, aspirasipublik.com – Masyarakat terdampak proyek Kereta Cepat yang berada di Jalan Karang Kamulyan, Bandung merasa sangat khawatir, hal ini disebapkan akibat adanya indikasi perubahan rencana yang dilakukan oleh pelaksana pekerjaan pembangunan kegiatan tersebut diatas. Munculnya perubahan yang sebelumnya sebelum pelaksanaan pekerjaan masyarakat terdampat disana akan direlokasi dan diberikan biaya penggantian penggusuran, namun belakangan rencana itu berubah menjadi tetap melakukan namun tanpa melakukan penggusuran tetapi hanya akan membangun dinding pembatas/penyekat perumahan ketinggian 3,2 M. membuat masyarakat semakin khawatir akan dampak yang akan muncul.

Demikian disampaikan masyarakat setempat kepada awak media aspirasipublik,com beberapa waktu lalu.

Kami semua warga Karang Kamulyan merasa sangat kecewa dengan kondisi ini dan kami memohon pihak KCIC agar segera dapat merealisasikan janji yang telah disampaikan kepada kami, agar nasib kami menjadi lebih jelas dan tidak digantung hingga saat ini

Saat ini merupakan “surat kami yang ketiga” yang kami tujukan kepada pihak KCIC dan PSBI, surat kami yang sebelumnya juga sudah menyampaikan kekecewaan kami diantaranya sebagai berikut:

1. Kami merasa kecewa karena pada sosialisasi yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 13 Maret 2019 yang dilakukan secara “ONE WAY” dan “tidak tepat waktu serta sangat singkat sekali” yang menyatakan bahwa “KAMI TIDAK TERKENA PROYEK KCJB YANG DISEBABKAN OLEH ADANYA RENCANA PEMBUATAN REKAYASA ENGINEERING DENGAN RETAINNING WALL” namun menurut kami hasil rekayasa tersebut terkesan terlalu dipaksakan sebagai upaya untuk menghindari terkenanya lahan kami di Jalan Karang Kamulyan “tanpa memperhatikan sama sekali proses sosialisasi dan janji dari pihak KCIC dan PSBI yang sudah dilakukan selama lebih dari 3 (tiga) tahun dan juga sama sekali tidak memperhatikan dampak buruk dan juga keselamatan bagi warga yang tidak jadi dibebaskan” selain itu kami juga tidak diberikan hasil analisis terkait keamanan penggunaan retaining wall didekat kompleks perumahan.

2. Kami sangat kecewa karena sejak sosialisasi pada hari Minggu-tanggal 26 Juni 2016 (tiga tahun yang lalu) lahan kami dinyatakan akan terkena dampak pembangunan tersebut dan akan dibebaskan. Namun selama 3 (tiga) tahun ini, meskipun kami sudah menerima belasan kali sosialisasi,3 kali pengukuran dan penilaian rumah oleh Badan Penilai Independent, bahkan rumah kami juga sudah diberi kode nomor dengan cat permanen, tetapi nasib kami belum jelas juga.

3. Kami “kami sangat keberatan sekali” apabila pembangunan KCJB yang melintasi komplek kami Singgasana Pradana-khususnya di wilayah Karang Kamulyan baik di Tanah Fasos maupun Fasum yang dimiliki komplek yang dilakukan oleh pihak KCIC maupun PSBI tanpa melakukan pembebasan tanah dan rumah kami, mengingat:

– Berdasarkan “Penetapan Lokasi (PENLOK)”SK     Gubernur Jawa Barat no.593/kep.793-PEMKSM/2017 yang diterbitkan 7 September 2017, diketahui bahwa “Jalan yang berada di depan rumah kami terkena Trase pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung. Sehingga lahan/bangunan kami terkena dampak dari pembangunan KCJB tersebut.

– Berdasarkan gambar design Trase Kereta Cepat Jakarta Bandung yang kami terima pada saat sosialisasi yang dilakukan oleh CREC pada hari Minggu tanggal 3 Februari 2019 dan beberapa kegiatan sosialisasi lainnya menunjukkan bahwa beberapa lahan kami terkena dampak pembangunan KCJB tersebut.

– Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung yang melalui wilayah kami akan menimbulkan banyak kerugian bagi kami dalam berbagai aspek,diantaranya:

  1. Aspek Ekonomi
  2. Harga tanah akan menjadi sangat rendah sekali sehingga mengakibatkan kerugian bagi warga Karang Kamulyan.
  3. Rumah di wilayah Karang Kamulyan sudah tidak dapat diperjualbelikan sebagaimana mestinya dan juga tidak dapat dikontrakkan karena begitu besarnya pemberitaan Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung yang melewati wilayah Karang Kamulyan.
  4. Besar sekali kemungkinan terjadi kerusakan pada struktur bangunan rumah kami sebagai akibat dari besarnya getaran dan tingginya intensitas dalam proses pengurungan dan proses tiang pancang disaat pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung nantinya seperti yang telah terjadi pada daerah lain,sehingga dipastikan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi kami karena operasional jalan tol yang sudah berlangsung selama ini juga telah memberikan kerusakan yang besar bagi struktur rumah kami.
  5. Aspek Psikologis  
  6. Ketidakpastian nasib kami dalam waktu yang sangat Panjang(lebih dari waktu tiga tahun),sudah sangat menguras energi,perhatian,tenaga dan waktu kami dan telah menyebabkan keresahan bagi kami warga yang terdampak.
  7. Banyaknya oknum yang mengaku bagian dari KCIC dan PSBI dan melakukan intimidasi terhadap warga karena warga membuat surat penyanggahan
  8. Akan timbul ketidaknyamanan serta. terganggunya ketenangan kami yang sudah sangat kondusif selama ini karena proses pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung.
  9. Aspek Sosial
  10. Adanya keraguan kami ketika harus menentukan kelanjutan kegiatan kami kedepannya,seperti dalam penentuan lokasi sekolah anak anak kami,apakah akan pindah ataukah tetap di Singgasana Pradana.Demikian juga dalam menentukan tempat usaha.
  11. Kami tidak lagi dapat menikmati interaksi sosial dengan warga lainnya di lahan RTH yang berada didepan rumah kami.
  12. Akan terganggunya ketenangan dan keamanan selama pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung.
  13. Aspek Kesehatan
  14. Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung dipastikan akan menghasilkan debu yang sangat banyak yang tentunya akan sangat berdampak buruk bagi Kesehatan kami warga yang terdampak.
  15. Selain polusi udara,pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung juga akan menimbulkan polusi suara serta getaran yang juga akan mengganggu Kesehatan kami.
  16. Aspek Lingkungan
  17. Kami membeli tanah/bangunan di jalan Karang Kamulyan karena menurut site plan dari pihak pengembang lahan tersebut diperuntukkan untuk RTH yang akan dibangun jogging track,taman berman,kebun sayur dan buah dan minigolf yang sampai saat ini belum terealisasi namun di lokasi tersebut akan dibangun KCJB.
  18. Berkurangnya ketersediaan oksigen bagi kami apabila akan dilakukan pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung nantinya ,karena selama ini Ketika kami akan melihat pohon pohon dan tanaman hijau namun setelah pembangunan nanti,maka yang berada di depan rumah kami adalah tembok tinggi yang tentunya tidak bisa menghasilkan oksigen.
  19. Lahan PSU di depan rumah kkami merupakan bantalan/buffer zone sebagai pengaman dari jalan tol,namun apabila KCJB sudah dibangun nanti,maka tidak akan adalagi bantalan/buffler zone di depan rumah kami. Kami tidak lagi dapat memperoleh manfaat dari RTH dan fasilitas komplek di depan rumah kami.
  20. Jalan di depan rumah kami selama ini tidak lagi diperbaiki dan dirawat sejak pemberitaan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung  sehingga menimbulkan ketidaknyamanan.
  21. Berdasarkan pertimbangan terhadap berbagai dampak negative yang akan kami terima diatas,maka melalui surat ini kami mengajukan permohonan sebagai berikut:
  22. Kami mohon pihak KCIC dan PSBI merealisasikan janji yang telah disampaikan kepada kami dalam rapat tanggal 22 Maret 2019 yaitu melakukan pembebasan atas tanah dan rumah kami melalui metode tranksaksi atau relokasi di wilayah kompleks Singgasana Pradana ;
  23. Kami mohon agar pembebasan lahan dan bangunan kami dilakukan secara keseluruhan,karena apabila hanya Sebagian yang dibebaskan,maka lahan dan rumah tidak lagi dapat difungsikan sebagaimana mestinya dan lahan yang tersisa tidak lagi akan memiliki nilai ekonomis yang sesuai;

Meski masyarakat terdampak telah menyampaikan aspirasinya melalui surat kepada pelaksana namun hal yang tidak memuaskan disampaikan oleh pelakasana kepada masyarakat setempat dengan menyampaikan surat jawaban kepada Ketua paguyuban Warga Singgasana (IKAWARNA) Erlof Hasibuan, pada tanggal 11 Agustus 2020 dengan isi sebagai berikut:

Menunjuk surat saudara No. B/08/WS/VI/2020 tanggal 20 Juni Mengenai Pengajuan kompensasi, Warga Pemukiman Singgasana Pradana Yang Terdampak Pembangunan Kereta Cepat Kereta Bandung (“Proyek KCJB”) serta memperhatikan surat Direktur HR, LA, dan Asset PT. Kereta Cepat

Indonesia China (KCIC)No. 2881 /DIR/ KCIC//06 2020 tanggal 1 Juli 2020 dengan ini kami sampaikan hal – hal sebagai berikut :

  1. Kegiatan pembangunan Proyek KCJB telah mendapatkan izin lingkungan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia  dengan No. SK .36 /Menlhk Setjen/PKTL. 0/1/2016tanggal 20 Januari 2016 beserta perubahannya.
  2. Penggantian/perbaikan kerusakan dan dampak lainnya yang muncul akibat pelaksanaan pembangunan proyek KCJB menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana;
  3. Untuk kompensasi penurunan nilai tanah dan bangunan,tidak dapat diberikan;
  4. Dinding pembatas/penyekat perumahan,sesuai surat KCIC tersebut diatas akandibangun dengan ketinggian 3,2 m.Dan apabila dibutuhkan pada saat pelaksanaannya,kontraktor dapat menyediakan tenaga keamanan tambahan;
  5. Dalam pelaksanaannya,relokasi fasilitas umum dan fasilitas sosial (Fasum Fasos) sudah termasuk pengaspalan jalan Karang Kamulyan.

Mengingat target pelaksanaan proyek KCJB pada daerah tersebut sudah mundur dari jadwal yang seharusnya,maka kami akan segera memulai pelaksanaan konstruksi proyek KCJB dan pekerjaan relokasi Fasos Fasum lainnya. (JSRW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: