Geostrategi Dan Geopolitik Dalam Mewujudkan Good Governance Di Indonesia

Keterangan: Prof. Dr. Drs. H. Ermaya Suradinata. SH,.MH,.MS. (Kiri) Bersama Dr. Joko Susilo Raharjo Watimena S. PdI., M.M.

Oleh: Dr. Joko Susilo Raharjo Watimena, S. Pdi. M.M. (Wartawan Media Aspirasi Publik)

Bagi bangsa Indonesia Wawasan Nusantara sebagai sebuah manifestasi ilmu geopolitik merupakan konsep nasional tentang realitas diri dan kondisi lingkungannya yang didasarkan pada konsep persatuan dan kesatuan wilayah, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan untuk mencapai tujuan sebagai bangsa merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Konsep di atas sangat membutuhkan keikutsertaan semua aktor dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dalam pandangan Good Governance aktor terdiri atas 3 aktor yakni: Pemerintah, Bisnis dan Masyarakat. Paradigma pemerintah sebagai a governing process ditandai oleh praktek pemerintahan yang berdasarkan pada konsensus-konsensus etis antara pemimpin dengan masyarakat. Pemerintahan dijalankan berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang terbentuk melalui diskusi dan diskursus yang berlangsung dalam ruang publik. Kedaulatan rakyat sebagai sebuah konsep dasar tentang kekuasaan telah menemukan bentuknya disini. Dalam konteks ini, penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik tidak semata-mata didasarkan pada pemerintah, tetapi dituntut adanya keterlibatan seluruh elemen, baik intern birokrasi, maupun masyarakat dan pihak swasta.

Keterangan: Dr. Joko Susilo Raharjo Watimena S. PdI., M.M Bersama Prof. Dr. Tcahya Supriatna, SU.

Pandangan geopolitik memposisikan ketiga aktor tersebut sebagai kunci pergerakan geopolitik dan geostrategis ketahanan bangsa. untuk menjalankan konsep geopolitiknya tersebut dibutuhkan suatu strategi nasional yang cermat dan matang yang bisa secara sederhana kita sebut “geostrategi”. Geostrategi secara sederhana dapat diartikan sebagai metode atau aturan-aturan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan melalui proses pembangunan yang memberikan arahan tentang bagaimana membuat strategi pembangunan dan keputusan yang terukur dan terimajinasi guna mewujudkan masa depan yang lebih baik, lebih aman, dan bermartabat. Sir Balford Mackinder (1861-1947) guru besar geostrategi Universitas London telah mengembangkan teori “geostrategy continental” yang merupakan teori yang saat ini digunakanya baik oleh negara-negara maju maupun negara-negara berkembang (Suradinata, 2005: 10 dalam Kaelan, 2007: 143). Usaha Mackinder ini mengingatkan kita bahwa betapa pentingnya konsep geostrategi bagi terwujudnya cita-cita sebuah bangsa dalam usaha mempertahankan kemerdekaannya maupun mengembangkan kehidupannya menuju puncak kejayaannya. Bagi bangsa Indonesia sendiri, geostrategi dapat diartikan secara lebih rinci sebagai metode/strategi untuk mewujudkan cita-cita proklamasi, sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945, melalui pembangunan nasional. Karena tujuan itulah maka hal itu sebagai pegangan bahkan doktrin pembangunan dan dalam hal ini lazim disebut sebagai “ketahanan nasional”. Seperti tertera secara eksplisit dalam pembukaan UUD 1945 dijelaskan dalam alinea III tentang pernyataan proklamasi: “…kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…” (Kaelan, 2007: 143). Dari pernyatan dalam pembukaan UUD 1945 itu sungguh betapa penting rumusan para pendiri bangsa itu untuk menjadi pegangan dalam menjalankan strategi nasional, karena Undang – undang Dasar 1945 merupakan landasan geostrategi nasional Indonesia.

Bangsa Indonesia yang terdiri dan terbentuk dari berbagai macam etnis, suku, ras, golongan, agama, dan terletak dalam sebuah teritori yang terpisah-terpisah dalam wilayah kepulauan dan lautan, menjadikan konsep geostrategi seharusnya di dasarkan pada keunikan, keragaman, dan keberbedaannya dari konsep geostrategi nasional bangsa lain yang memiliki ciri dan karakter yang berbeda. Karena kita tahu, dengan corak dan perbedaan karakter bangsa yang khusus, maka konsep nasionalisme kita tentu juga bersifat khusus, dan oleh karena itu juga memerlukan konsep geostrategi yang khusus pula. Ciri-ciri atau prinsip-prinsip nasionalisme sebagai nilai dasar dalam mewujudkan Good Governance di  Indonesia seperti diutarakan oleh Notonagoro sebagai berikut:

1.Kesatuan sejarah, Negara indonesia adalah merupakan buah kesadaran bangsa-bangsa Nusantara yang telah bergulat lama dalam rentang sejarah yang panjang. Yakni sejak periode pra sejarah, Hindu-Bunda, zaman Islam, zaman kolonialisme, zaman pergerakan, hingga zaman perjuangan revolusi dan kemerdekaan. Konsep Kesatuan bangsa-bangsa nusantara di zaman kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan majapahit sungguh menjadikan bangsa Indonesia mempunyai perekat awal dalam usaha memerdekaan diri dari penjajahan kolonial. Konsep kesatuan/kesamaan sejarah ini tentu merupakan basis yang kokoh untuk mempertahankan kesatuan bangsa Indonesia di era pasca kemerdekaan.

2.Kesatuan nasib, Sejak kedatangan penjajah Belanda maupun sejak hidup dalam konsep kesatuan nusantara di jaman Majapahit dan Sriwijaya, bangsa Indonesia telah merasakan sebuah rangkaian sejarah yang sama. Oleh karenanya bangsa ini relatif memiliki kesamaan sejarah, baik dalam persatuan kerajaan nusantara, maupun dalam hal kesamaan penderitaan dan nasib sejak dijajah oleh para penjajah eropa.

3.Kesatuan Kebudayaan, Dalam rangkaian pengalaman sejarah yang sama, bangsa Indonesia tentu mengembangkan suatu corak kebudayaan yang saling-kait mengait dan saling pengaruh-mempengaruhi. Corak tersebut tentu menghasilkan sebuah corak dan ciri kebudayaan yang beragam namun mempunyai nafas dan dinamika yang bersifat integratif, sehingga memunculkan apa yang sekarang disebut sebagai kebudayaan nasional Indonesia.

4.Kesatuan Wilayah, Kesadaran persatuan nusantara yang telah disemai oleh para pendahulu oleh kerajaan sriwijaya dan Majapahit dan kerajaan-kerajaan lainnya tentu telah mengilhami konsep persatuan wilayah yang berhujung pada konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5.Kesatuan asas Kerohanian, Dalam rentang historis yang panjang, agama-agama dunia maupun pandangan-pandangan kepercayaan yang hidup dan berkembang di seluruh wilayah Nusantara telah membentuk konsep kerohanian yang padu tentang konsep ketuhanan yang diyakini oleh bangsa Indonesia. Konsep, ide, tujuan, cita-cita, dan nilai-nilai kerohanian tersebut akhirnya termanifestasi dan tersimpul dalam dasar filosofis negara Indonesia yakni Pancasila (Notonagoro, 1975: 106). Dari pembelajaran diatas indonesia merupakan negara yang menjadi target dan rebutan bangsa bangsa Adikuasa karena letaknya yang strategis dan kaya akan segala macam baik Alamnya, Iklimnya, Hasil buminya, Bahasanya, Budayanya, Hasil Lautnya oleh sebab itu bangsa indonesia harus merapatkan barisan bersatu untuk sama sama menjaga dan melestarikan kekayan kita dari ancaman para penjajah cukup tiga setengah abad kita dijajah menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Dalam konteks menangkal ancaman baik dari luar dan dalam, karena sifat silang Indonesia dari berbagai aspek geostrategis maupun aspek lain, Indonesia mempunyai dua alternatif: yakni hanya menjadi obyek daripada lalu-lintas kekuatan dan pengaruh luar, atau menjadi subyek yang turut aktif mengatur lalulintas kekuatan-kakuatan pengaruh luar tersebut untuk mewujudkan cita-cita sebagai bangsa merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Sejauh ini Indonesia, terutama terkait kesatuan resmi wilayah Indonesia secara umum masih tetap tegak berdiri, meskipun pada wilayah-wilayah penciptaan kemerataan ekonomi, ancaman korupsi, kesatuan budaya, politik, dan pertahanan kemanan masih harus perlu ditingkatkan dan dikembangkan secara terus menerus.  materi diatas penulis dapatkan dari Prof. Dr. Drs. H. Ermaya Suradinata, SH., MH., MS. DAN Prof. Dr. Tcahya Supriatna, SU. Semasa penulis menyelesaikan kuliah di S3 Ilmu pemerintahan IPDN. penulis merasa ingin berbagi keilmuan ini untuk masyarakat bangsa dan negara tercinta Indoesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: