Wujudkan Keluarga Harmonis, Gunakan Strategi Sesuai Perkembangan Zaman

Senggigi, aspirasipublik.com – Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah menegaskan, untuk membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia dibutuhkan sinergi semua pihak, termasuk pemetaan strategi yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Saya sangat berharap dalam menangani masalah keluarga di NTB segera teratasi dengan mengedepankan sinergi dan strategi yang sesuai zaman. Sehingga masalah anak dan kekerasan perempuan di tengah kita dapat dicegah,” harap Ummi Rohmi, sapaan akrab Wagub NTB saat membuka acara Bimtek Konseling Keluarga, Kesetaraan Gender, dan Hak Anak di NTB yang digelar di Hotel Jayakarta, Kamis (12/11).

Menurut Ummi Rohmi, berbicara edukasi berarti berbicara merubah pola pikir seseorang. Apalagi edukasi kepada anak dan mencegah terjadinya kekerasan pada perempuan harus selaras dengan perkembangan zaman. Pola mendidik anak-anak terdahulu dan sekarang tidak sama, mengingat perkembangan zaman yang terus mengalami perubahan yang secara otomatis telah merubah pola pikir dan prilaku anak-anak zaman sekarang

Selain itu, Ummi Rohmi menjelaskan, merubah cara pandang seseorang bukan dengan cara memaksa tapi proses edukasinya harus berlanjut. Sehingga waktu demi waktu hal itu akan mudah diyakini, kalau sudah diyakini kebenarannya maka masalah-masalah dalam keluarga seperti mencegah pernikaha anak, mencegah kekerasan dalam rumah tangga dan kesetaraan gender  sangat mudah teratasi.

“Karena itu, cara kita mengedukasi anak-anak harus mengikuti zaman. Artinya proses edukasi harus sesuai dengan perkembangan teknologi informasi saat ini seperti edukasi melalui visual dan lain-lain. Sehingga anak-anak tidak cepat bosan,” tutup  Wagub

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTB, Ir. Husnanidiaty Nurdin mengatakan, banyak penyelasaian kasus-kasus pernikahan pada anak dan kekerasan perempuan yang tidak ditangani secara berlanjut terkait psikologisnya. Sehingga psikologis mereka yang mengalami kekerasan sangat terganggu, terutama menyisakan rasa trauma yang terus berlanjut. “Penanganan-penanganan itu, kami melihat memerlukan para ahli-ahli psikolog yang berkompenten. Untuk itu, dalam kegiatan bimtek ini diharapkan kepada stakeholder terkait untuk bagaiamana menangani anak-anak dan perempuan yang mengalami kekerasan di NTB,” katanya. (Syarif)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: