Literasi Informasi Berbasis Media Digital

Jakarta, aspirasipublik.com – Era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 saat ini telah mengakibatkan disrupsi di segala bidang, dengan ciri-ciri zaman yang penuh dengan volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Hoaks dan aktivitas buzzer menghiasi media sosial dan sulit untuk mengenali mana yang merupakan kebenaran dan mana yang merupakan kabar manipulasi, untuk mempengaruhi cara berpikir masyarakat.

Masyarakat harus cerdas dalam bermedia sosial dengan menjaga etika, sopan santun, dan mengedepankan akal sehat. Dalam memberikan pencerahan tentang literasi media menuju masyarakat yang bijak dalam bermedia sosial dan menggunakan teknologi, maka pada Kamis, 4 Maret 2021 pukul 09.00 – 12.00 WIB, Politeknik STIA LAN Jakarta mengadakan kegiatan Knowledge Sharing dengan narasumber Ismail Fahmi, Ph.D. (Founder PT Media Kernels Indonesia (Drone Emprit) dengan Tema: Literasi Informasi Berbasis Media Digital. Kegiatan ini diawali dengan Opening Speech oleh  Prof. Dr. Nurliah Nurdin (Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta), Serta Keynote Speeker oleh Drs. Muh. Syarif Bando, MM (Kepala Perpustakaan Nasional RI).

Dalam Sambutan, Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta menyatakan bahwa Kegiatan Knowledge Sharing: Literasi Informasi Berbasis Media Digital ini sangat penting sebagai salah satu upaya penguatan karakter, dan kapasitas dalam meningkatkan kemampuan literasi dengan kritis dan bijak, khususnya bagi ASN, sivitas akademika serta masyarakat umum. Kemajuan teknologi era industri 4.0 sangat bermanfaat dalam memudahkan kelangsungan hidup manusia di berbagai bidang, disamping itu, kemajuan teknologi tersebut pun memiliki sisi negatif yaitu potensi berita pada dunia digital cenderung ke arah manipulatif bahkan menjurus kepada kejahatan siber. Fenomena negatif tersebut seperti hoaks, fake news, perlu menjadi perhatian bersama baik dari pihak pemerintah, kalangan pendidik serta pengguna teknologi digital tersebut untuk melakukan mitigasi dan menanggulangi kejahatan siber tersebut.  Generasi Y dan Z seringkali menjadi target kejahatan hoaks karena cenderung mudah terhasut oleh berita hoaks, cenderung pasif dalam melakukan klarifikasi berita, lemahnya pemahaman dan kesadaran tentang keamanan informasi siber, serta keterbatasan wadah layanan pengaduan kejahatan siber. Hal tersebut menjadi dasar pemikiran mengenai pentingnya mendidik dan membangun budaya literasi digital yang kritis dan bijak dalam menggunakan teknologi digital terutama sosial media. Politeknik STIA LAN Jakarta mengucapkan apresiasi kepada Kepala Perpustakaan Nasional RI, Drs. Muh. Syarif Bando, MM, sebagai Keynote Speaker dan Bapak Ismail Fahmi, Ph.D. (Founder PT Media Kernels Indonesia (Drone Emprit), sebagai Narasumber. Adapun audience kegiatan berjumlah 775 peserta yang terdiri dari Dosen Poltek STIA LAN Jakarta, Bandung dan Makassar, Para mahasiswa Program Sarjana, Magister, maupun Program Doktor, ASN di Lingkungan LAN maupun K/L serta masyarakat umum dari seluruh Indonesia.

Adapun Kepala Perpustakaan Nasional RI dalam paparannya mengatakan bahwa literasi adalah kemampuan memahami informasi dari apa yang tersirat dan tersurat. Kemampuan literasi dan membaca menjadi modal utama filter dan benteng hoaks, serta menjadi modal dalam menciptakan barang/jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Persoalan literasi di Indonesia, menjadi tema sentral di tahun 2021 karena rendahnya budaya membaca/ literasi di Indonesia yang menyebabkan rendahnya daya saing, rendahnya indeks pembangunan manusia, rendahnya inovasi, rendahnya pendapatan per kapita, rendahnya rasio gini, dan rendahnya indeks kebahagiaan. Berbagai permasalahan tersebut, disikapi oleh pemerintah dalam membuat regulasi yang mengakselarasi peran akademisi perguruan tinggi dalam hal meningatkan jumlah publikasi, distribusi dan pengganggaran. Sebagai benchmark yang dapat dijadikan best practice pada beberapa negara di ASEAN lain dalam memproduksi barang/jasa yang bermutu dalam meningkatkan daya saing.

Lebih lanjut, Ismail Fahmi, Ph.D menyampaikan bahwa pada era digital 4.0 perkembangan big data semakin meningkat 50 kali dari tahun 2010 sampai 2020 dan selama 2 tahun terakhir data digital meningkat sebesar 90%. Begitu pula sosial media seperti twitter pengguna twitter naik 27% pada tahun 2018 menjadi 50% pada tahun 2020. Melalui potensi tersebut, informasi dapat terdifusi secara masif sehingga perlu upaya untuk menetralisasi disinformasi data/hoaks. Disinformasi data dapat menguntungkan beberapa model bisnis seperti contoh berita kontroversial yang terdapat pada Twitter dan Facebook menyebar lebih cepat 6x lipat daripada berita benar. Pengakuan buzzer mengatakan bahwa pembuatan berita hoaks secara konsisten pendapatannya 100-150 juta/bulan terutama penciptaan berita hoaks pada berita politik dan SARA. Model yg dihasilkan algoritma ini membuat perilaku membagi disinformasi itu jauh lebih mudah dilakukan, daripada perilaku mencari dan menyebarkan kebenaran. Bias terhadap disinformasi lebih berat daripada terhadap kebenaran karena disinformasi data/hoaks bertujuan mendapatkan keuntungan, mobokrasi dalam sosial media, dan polarisasi opini publik bahkan peperangan. Hoaks berasal dari teori konspirasi yang bersifat context collapse melalui potongan fakta, klaim dari berbagai sumber sehingga terbentuk data yang diharapkan buzzer untuk meyakinkan netizen. Di masa krisis dengan situasi yang kompleks seperti sekarang ini, orang-orang akan mudah percaya teori konspirasi karena mereka “butuh penjelasan yang masuk akal bagi mereka atas situasi yang sedang terjadi.” Kecenderungannya secara psikologis, saat peristiwa besar terjadi, publik butuh pegangan. Pegangan yang paling valid bersumber dari facts dan science melalui akademisi dan perpustakaan. Salah satu tools deteksi untuk mengetahui validitas berita/hoaks dengan memverifikasi data atau gambar pada aplikasi search image. Upaya efektif yang dapat dilakukan untuk menghadapi penyebaran propaganda dan hoaks yaitu perubahan perilaku manusia serta dukungan peran akademisi-pustakawan dalam membangun literasi untuk civitas akademika dan masyarakat Indonesia tentang bagaimana memeriksa fakta dengan “Think before Sharing”. (JSRW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: