Partisipasi Perempuan Indonesia di Kancah Legislatif

Jakarta, aspirasipublik.com – Indonesia menempati urutan keenam se-ASEAN terkait jumlah porsi wanita pada kursi legislatif dengan persentase dibawah 20%, walaupun Indonesia telah mengeluarkan kebijakan aturan kuota 30%. untuk legislatif

Hal ini disampaikan Prof. Dr. Nurliah Nurdin, M.A., Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, di hadapan peserta Webinar “Ngademi Covid-19” (Ngaji Demokrasi di Masa Covid 19) yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Cirebon, Rabu, 21 April 2021 secara daring via aplikasi zoom.

Nurliah Nurdin menjadi narasumber pada Webinar tersebut bersama narasumber lainnya dari Komisioner KPU Jawa Barat yaitu Titik Nurhayati, S.Pd., M.Hum.,  Ketua Komisi IV DPRD Kab. Cirebon Siska Karina, S.H., M.H., dan Ketua Network For Indonesian Democratic Society – Netfid Indonesia Dahlia Umar, M.A., dengan sambutan pengantar oleh Dr. H. Sopidi, M.A., Ketua KPU Kabupaten Cirebon.

“Kurangnya partisipasi perempuan di kursi legislatif disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah stigma kedudukan perempuan yang terjadi di tingkat keluarga, di tingkat sekolah, di tingkat masyarakat dan di tingkat negara/pemerintah yang menurut UU Pemilu, alokasi perempuan di parlemen sebesar 30%, tetapi pada kenyataannya selalu kurang dari target yang diharapkan”, ujar Nurliah.

Nurliah menambahkan bahwa terdapat beberapa faktor  yang mempengaruhi representasi perempuan di politik, diantaranya adalah budaya patriarki persepsi masyarakat terhadap pemimpin perempuan, kurangnya kaderisasi pengurus perempuan dalam partai politik, media yang berperan penting dalam membangun opini publik, rentannya keselamatan perempuan yang mengikuti kegiatan politik, dan kemiskinan mengingat  besarnya biaya untuk terjun ke dunia politik.

“Untuk itu, diperlukan adanya solusi diantaranya perlunya anggaran berbasis gender, dalam semua kegiatan Pemerintahan, KPU, Bawaslu, Penyelenggara Pemilu, Parpol, Pendidikan dan Pelatihan dari berbagai sektor, untuk meningkatkan kualitas dan kepercayaan diri perempuan sehingga dapat mencapai tujuan tersebut”, pungkas Nurliah.

#emansipasi #wanita #peranserta #gender #birokrasi #politeknik #stia #lan #jakarta #kampusjakarta #pmb #kampusnegeri #lanri #bring #competency. (JSRW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: