
Dr. Irfan Setiawan, M.Si. Peneliti pada Science Traffic Forum, IPDN
Oleh: Dr. Irfan Setiawan, M.Si. Peneliti pada Science Traffic Forum, IPDN
Ilmu pengetahuan dibangun di atas fondasi kepercayaan. Kepercayaan bahwa setiap gagasan lahir dari proses intelektual yang dapat ditelusuri, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan. Dalam tradisi akademik, fondasi itu diwujudkan melalui rujukan ilmiah yang di tampilkan dalam daftar pustaka yang tidak sekadar formalitas administratif, melainkan peta genealogis pemikiran. Namun, di tengah akselerasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), fondasi tersebut mulai menunjukkan retakan yang mengkhawatirkan. Salah satu gejala paling problematik adalah maraknya referensi buatan AI, dimana nama penulis yang tidak pernah ada, judul artikel yang fiktif, jurnal yang semu, dan tahun terbit yang hanya tampak meyakinkan di permukaan. Menurut prinsip etika penelitian seperti yang ditegaskan dalam pedoman COPE (Committee on Publication Ethics), integritas data dan sumber adalah inti dari kredibilitas. Sitasi AI yang “meyakinkan” tapi fiktif bukan hanya menyesatkan pembaca, tapi juga merendahkan nilai karya manusiawi yang autentik.
Fenomena ini bukan lagi anomali sporadis, melainkan kecenderungan yang semakin sering dijumpai dalam artikel jurnal dan buku akademik. Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat peningkatan signifikan dalam jumlah publikasi yang mengandung referensi yang tidak dapat diverifikasi. Ketika ditelusuri melalui mesin pencari, basis data ilmiah, maupun repositori resmi, referensi tersebut tidak dapat ditemukan, yang menimbulkan pertanyaan serius tentang keandalan dan kredibilitas karya-karya tersebut. Ironisnya, referensi palsu ini tidak berhenti pada satu karya, tetapi direplikasi, dikutip ulang, dan diwariskan oleh penulis lain yang mempercayainya secara membabi buta, seolah-olah informasi tersebut telah teruji dan terbukti kebenarannya. Fenomena ini dapat kita lihat dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu sosial hingga sains alam, di mana penelitian yang seharusnya berdasar pada data yang valid justru mengandalkan informasi yang meragukan. Inilah titik di mana persoalan teknis berubah menjadi persoalan epistemologis yang serius dimana kita mulai mempertanyakan bagaimana pengetahuan dibangun dan disebarluaskan dalam dunia akademisi. Apakah kita telah memasuki era di mana otoritas akademik dapat dipertanyakan, dan bagaimana dampaknya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri?
Dalam lanskap intelektual modern, kehadiran AI seyogianya adalah mitra, bukan pengganti akal sehat manusia. Ia adalah alat bantu yang memperkaya, bukan mesin yang mengikis esensi pemikiran. Namun, kita kerap tergelincir pada godaan kemudahan, menjadikan AI sebagai pabrik teks instan, bahkan dalam ranah sakral penyusunan daftar pustaka. Algoritma AI, layaknya seorang penyihir kata, dengan lihai merangkai sitasi yang memukau secara superfisial: nama penulis nan terkemuka, judul yang seolah-olah relevan, dan format yang patuh pada kaidah baku. Sebuah ilusi kesempurnaan. Celakanya, kemiripan ini menyimpan racun. Apa yang tampak meyakinkan di permukaan belum tentu berurat-akar pada kebenaran. Di sinilah tersembunyi jurang paling berbahaya dari euforia teknologi tanpa diimbangi nalar kritis. AI tidak memahami makna intrinsik dari sebuah sumber, ia hanya meniru pola. Menggunakan sitasi hasil generasinya tanpa verifikasi adalah tindakan bunuh diri intelektual, membangun fondasi argumen di atas pasir hisap. Maka, literasi kritis bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan perisai esensial di era banjir informasi ini, membedakan mutiara dari kerikil, kebenaran dari fatamorgana.
Masalah ini diperparah oleh budaya akademik yang semakin terobsesi pada tuntutan kuantitas seperti jumlah artikel, jumlah sitasi, indeks, peringkat keahlian, termasuk dalam laporan kinerja dosen dan pengakuan pemeringkatan Program Studi. Dalam tekanan tersebut, proses verifikasi referensi sering kali dianggap sebagai pekerjaan teknis yang memakan waktu, bukan sebagai bagian integral dari etika ilmiah. AI kemudian hadir sebagai jalan pintas yang menggoda. Dalam hitungan detik, daftar pustaka dapat disusun, meski sebagian atau seluruhnya merupakan fiksi yang disamarkan. Namun, kesalahan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada penulis. Editor dan reviewer jurnal maupun buku akademik memegang peran kunci dalam ekosistem pengetahuan. Mereka adalah gerbang penjaga (gatekeepers) kualitas ilmiah. Ketika referensi palsu lolos hingga tahap publikasi, itu menandakan adanya kegagalan sistemik dalam proses editorial dan penelaahan sejawat, utamanya pada jurnal-jurnal yang fasttrack. Banyak reviewer fokus pada substansi argumentasi, metodologi, dan hasil penelitian, tetapi mengabaikan validitas sumber rujukan. Daftar pustaka diperlakukan seolah-olah wilayah netral yang bebas dari kecurigaan.
Padahal, satu referensi palsu saja sudah cukup untuk merusak rantai pengetahuan. Ia bekerja seperti virus epistemik: tak terlihat, mudah menyebar, dan sulit dilacak asal-usulnya. Ketika penulis lain mengutip referensi tersebut, bukan karena malas, tetapi karena percaya pada kredibilitas jurnal atau buku yang telah memuatnya, maka kesalahan itu berlipat ganda. Dalam jangka panjang, literatur ilmiah dapat dipenuhi oleh jejak-jejak fiktif yang saling merujuk satu sama lain, menciptakan ilusi konsensus ilmiah yang sebenarnya kosong.
Satu benih dusta ilmiah, satu referensi palsu, cukuplah untuk meruntuhkan menara pengetahuan yang kokoh. Ia bekerja seperti virus epistemik yang sunyi, tak kasat mata namun mematikan, menyusup ke dalam sel-sel keilmuan, menyebar diam-diam, dan jejak asalnya begitu sulit untuk ditelusuri. Bagaikan racun yang mengalir dalam nadi akademis, kerancuan ini tak hanya berhenti pada satu titik. Ketika para cendekiawan lain, bukan karena abai, melainkan karena percaya pada otoritas dan reputasi jurnal atau buku yang telah menerbitkan referensi fiktif tersebut, mereka tanpa sadar turut menyemai bibit kesalahan. Multiplikasi kekeliruan pun terjadi, bagaikan rantai domino yang tak terputus.
Setiap kutipan baru atas referensi palsu itu bukan hanya melipatgandakan kesalahan, tetapi juga mengukuhkan keberadaannya dalam diskursus ilmiah. Apa yang kita dapati adalah sebuah lanskap literatur ilmiah yang dipenuhi oleh bayang-bayang fiktif, jejak-jejak semu yang saling merujuk satu sama lain dalam tarian ilusi. Konsensus ilmiah yang seharusnya terbentuk dari dialektika kebenaran, kini menjadi fatamorgana kosong, gemerlap namun hampa makna. Inilah bahaya sesungguhnya dimana hilangnya fondasi kebenaran, tergantikan oleh ilusi yang dibangun di atas kebohongan, meracuni akal budi dan menghambat kemajuan pengetahuan sejati.
Teori, kebijakan, dan rekomendasi praktis sering kali disusun berdasarkan tinjauan literatur. Jika literatur tersebut tercemar oleh referensi palsu, maka bangunan argumentasi yang dibangun di atasnya menjadi rapuh. Kebijakan publik, misalnya, rujukan ilmiah yang tidak valid dapat berujung pada keputusan yang keliru dan berdampak luas bagi masyarakat misalkan anggaran salah alokasi, program kesehatan gagal, atau reformasi pendidikan yang sia-sia, menjerumuskan masyarakat ke jurang penderitaan massal Lebih tragis lagi, hal ini melahirkan ketidakadilan akademik yang menusuk hati nurani. Para peneliti jujur, yang rela menyelami lautan sumber dengan telaten, memverifikasi setiap fakta seperti penggalah berlian, kini harus beradu dengan para oportunis yang memeluk AI sebagai jalan pintas tanpa rem verifikasi. Saat karya beracun lolos sensor peer-review dan bahkan dirayakan dengan kutipan gemilang, pesan yang terpancar adalah jeritan bisu dimana integritas hanyalah hiasan, bukan pondasi produksi pengetahuan. Ini bukan hanya ketidakadilan, melainkan pengkhianatan terhadap roh keilmiahan yang mengubah pencarian kebenaran menjadi arena gladiator kemudahan, di mana yang kuat bukan kejujuran, tapi kelicikan.
Kelemahan editor dan reviewer tidak selalu bersumber dari ketidakpedulian, tetapi sering kali dari keterbatasan sistem. Beban kerja yang tinggi, tenggat waktu ketat, dan minimnya insentif untuk melakukan pemeriksaan referensi secara mendalam membuat proses review menjadi pragmatis. Namun, pragmatisme semacam ini mahal harganya. Ia menukar efisiensi jangka pendek dengan kerusakan jangka panjang terhadap kepercayaan publik pada dunia akademik. Dalam situasi ini, diperlukan perubahan paradigma. Verifikasi referensi harus dipandang sebagai bagian esensial dari kualitas ilmiah, bukan sebagai pelengkap. Editor perlu mendorong penggunaan perangkat pemeriksa referensi dan mewajibkan penulis untuk memastikan bahwa setiap rujukan dapat ditelusuri. Reviewer, di sisi lain, perlu mengadopsi sikap skeptis yang sehat yakni tidak semua yang tertulis rapi dan berformat benar layak dipercaya.
Di tingkat penulis, literasi AI menjadi keharusan, bukan pilihan. AI harus diperlakukan sebagai alat bantu awal, bukan otoritas epistemik. Setiap sitasi yang dihasilkan AI wajib diverifikasi melalui sumber primer. Tanpa proses ini, penggunaan AI justru berubah menjadi praktik akademik yang tidak etis. Di sinilah peran institusi pendidikan tinggi menjadi krusial dalam menanamkan etika penggunaan teknologi sejak dini.
Jika fenomena referensi palsu berbasis AI dibiarkan, kita berisiko memasuki era “post-referential science” yakni sebuah kondisi di mana rujukan tidak lagi merujuk pada realitas pengetahuan, melainkan pada simulasi teks yang saling menguatkan secara artifisial. Ilmu pengetahuan akan kehilangan salah satu ciri utamanya: keterlacakan. Tanpa keterlacakan, kritik ilmiah menjadi tumpul, dan kemajuan pengetahuan terhenti.
Pada akhirnya, AI bukanlah musuh ilmu pengetahuan. Musuh sesungguhnya adalah ketidakjujuran intelektual yang dibungkus oleh kecanggihan teknologi, serta kelalaian sistemik yang membiarkannya tumbuh subur. Menghadapi tantangan ini membutuhkan keberanian untuk bersikap tegas: menolak referensi palsu, memperketat proses editorial, dan menegaskan kembali bahwa kejujuran ilmiah adalah nilai yang tidak dapat dinegosiasikan.
Ilmu pengetahuan berkembang melalui dialog yang jujur antara masa lalu dan masa kini. Referensi adalah jembatan dialog tersebut. Ketika jembatan itu dibangun dari bahan fiktif, maka yang menanti di seberangnya bukan kemajuan, melainkan jurang kekacauan epistemik. Di titik inilah dunia akademik diuji apakah ia akan tunduk pada kemudahan semu, atau memilih jalan yang lebih sulit namun bermartabat demi masa depan pengetahuan manusia.





