
Oleh: Josefina Queen. R.P , Universitas Katholik Parahyangan Bandung (S.1 Fakultas Manajamen)
Tren thrifting tidak hanya memberikan pengalaman dalam mencari barang dengan pilihan estetika yang unik dan berbeda dengan fashion baru, tetapi juga memberikan keuntungan bagi Gen Z untuk mengekspresikan diri dalam membentuk identitas sesuai dengan kemampuan ekonomi. Lain daripada itu, thrifting juga memberikan alternatif bagi Gen Z dalam menentukan gaya yang lebih beragam. Penawaran harga yang lebih terjangkau dengan kualitas yang baik dibandingkan dengan fashion baru membuat thrifting menjadi pilihan utama bagi banyak orang khususnya Gen Z. Oleh karena itu, faktor pendorong utama yang membuat produk thrift digemari banyak orang bukan hanya sekedar estetika dan identitas yang ditawarkan melainkan karena adanya faktor harga yang terjangkau. Jadi, estetika yang didukung dengan harga murah sebenarnya mendorong pembentukan identitas Gen Z yang kreatif dan autentik.
Dalam thrifting, identitas Gen Z terbentuk berdasarkan upaya mereka dalam menolak homogenisasi atau penyeragaman gaya berdasarkan tren arus utama. Gen Z tidak ingin membentuk identitas melalui produk-produk yang sama dan berulang seperti yang di tawarkan oleh industri fashion komersial, sehingga thrift dijadikan sebagai wadah juga ruang alternatif untuk mendefinisikan diri mereka secara bebas, kreatif, dan autentik dengan tidak bergantung pada arus fashion baru. Melalui eksperimentasi mereka melalui thrift, Gen Z dapat menemukan bahwa melalui proses memilih, menggabungkan, serta memodifikasi, mereka dapat mengekspresikan diri secara lebih personal. Proses ini dapat membentuk identitas yang berorientasi pada preferensi pribadi bukan pada gaya yang sudah ditentukan oleh industri fashion komersial. Dengan demikian, thrift tidak hanya sekedar aktivitas konsumsi, melainkan sebagai ruang alternatif bagi Gen Z dalam mengekspresikan diri dan membentuk identitas yang khas.
Selain identitas, estetika juga memiliki peran yang sama besar dalam mendorong keputusan Gen Z memilih barang thrift. Pandangn Gen Z, thrift memiliki karakteristik visual yang unik dan berbeda yang tidak dapat ditemukan pada produk fashion komersial. Mulai dari warna, desain, dan kualitas bahan yang memiliki unsur vintage atau lawas memberikan ruang bagi Gen Z dalam mengeksplorasi gaya visual yang lebih autentik. Dengan melalui proses modifikasi atau mix and match pakaian, Gen Z dapat membangun estetika yang merepresentasikan selera visual mereka yang jauh lebih beragam dan ekspresif dibandingkan dengan gaya visual homogen yang dihasilkan oleh industri fashion komersial. Jadi, estetika yang timbul melalui thrifting memberikan kebebasan bagi Gen Z dalam menampilkan selera visual yang autentik, variatif, dan berkarakter.
Harga yang terjangkau menjadi dasar utama dalam mendorong keputusan Gen Z untuk memilih barang thrift dan menjadi alasan umum yang membuat thrift populer di kalangan Gen Z. Mereka dapat memperoleh barang-barang yang berkualitas baik dengan harga terjangkau dan sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka. Hal ini membuat Gen Z dapat mengeksplorasi, mencoba banyak kombinasi visual, maupun bereksperimen dengan berbagai macam gaya sesuai dengan selera mereka tanpa mempertimbangkan risiko finansial yang cukup besar seperti kerugian. Dengan penawaran harga yang terjangkau, thrift menjadi keputusan konsumsi yang lebih ekonomis dibandingkan dengan fashion komersial yang lebih mahal dan tidak efisien. Dengan kata lain, harga yang terjangkau menjadi faktor penentu yang memperkuat thrift sebagai pilihan yang realistis bagi Gen Z.
Secara keseluruhan, pilihan Gen Z terhadap produk thrift bukan hanya sekedar tren konsumsi biasa melainkan sebagai aktivitas yang berkaitan dengan pembentukan identitas, pengembangan estetika, serta pertimbangan harga yang sesuai dengan kemampuan ekonomi. Dengan thrifting, Gen Z memiliki ruang alternatif dalam mengekspresikan diri secara bebas, kreatif, dan autentik tanpa bergantung pada gaya yang ditetapkan oleh industri fashion komersial. Selain itu, Gen Z dapat membangun estetika diri dengan merepresentasikan selera visual mereka yang jauh lebih beragam. Keterjangkauan harga juga menjadikan thrift sebagai keputusan konsumsi yang lebih ekonomis tanpa harus mempertimbangkan risiko finansial dan menjadi keputusan yang rasional bagi Gen Z. Dengan demikian, kombinasi antara estetika yang menarik dan harga yang terjangkau memudahkan Gen Z dalam menentukan identita mereka.






