Ahkam: “Kita Dalam Kondisi Zona Merah Yang Tidak Boleh Ditoleransi Lagi”

Giri Menang, aspirasipublik.com – Berdasarkan rilis dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten Lombok Barat tercatat sebagai jumlah terbesar kedua setelah Kota Mataram dalam hal jumlah warga yang positif Covid 19. Malam ini, Sabtu (30/5/2020) tercatat 9  pasien bertambah di Lombok Barat sehingga totalnya menjadi 130 pasien dengan angka kesembuhan hanya 51 orang. Ini melengkapi jumlah pasien positif se-Provinsi Nusa Tenggara Barat yang berjumlah 363 pasien dengan jumlah kesembuhan baru mencapai 291 orang pasien sembuh.

“Trend ini masih mengkhawatirkan. Malam ini kita ketambahan 42 pasien positif dan 9 pasien di antaranya berasal dari Lombok Barat,” terang Pelaksana Tugas Kabag Humas Protokol Kabupaten Lombok Barat yang sekaligus merupakan Kepala Dinas Pariwisata, H. Saiful Ahkam lewat sambungan telpon,  Sabtu Malam (30/5/2020).

Ahkam mengaku khawatir dengan penyebaran Covid 19 terkait dengan esok harinya jatuh sebagai perayaan Lebaran Topat di mana biasanya terjadi banyak keramaian, terutama di tempat-tempat wisata.

Perayaan Lebaran Topat setelah H+7 merayakan Hari raya Idul Fitri sudah menjadi tradisi masyarakat Lombok Barat untuk pergi rekreasi bersama keluarga ke tempat-tempat wisata. Tetapi dengan kondisi penyebaran Covid-19 yang terus meningkat, dari pihak Dinas Pariwisata berupaya melakukan pencegahan dan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Hal tersebut sebelumnya disampaikan Ahkam saat melakukan monitoring kesiapan pengamanan di Taman Narmada, Sabtu (30/5).

“Ada beberapa titik obyek wisata yang sudah kita identifikasi, baik itu yang dikelola untuk publik, baik oleh pemerintah maupun swasta dan perorangan. Pemkab Lombok Barat sudah minta agar para Kepala Desa, Pokdarwis dan pengelola untuk menutup tempat wisatanya,” tegas Ahkam.

Dia menegaskan, kata menutup sungguh  dikarenakan pertimbangan NTB dan Lombok Barat masih berada dalam kondisi zona merah.

“Kita dalam kondisi zona merah yang tidak boleh di toleransi lagi,” tegasnya.

Dia menambahkan, sampai hari ini Pemkab Lombok Barat masih tidak membuka peluang kepada para pengelola wisata sampai H+8 dari perayaan Idul Fitri untuk membuka  aktivitas wisata di tempat yang dikelolanya.

“Tahun ini kita sangat prihatin dan mohon permakluman kepada para pengelola wisata dan para pedagang. Kita sangat khawatir jangan sampai lebaran topat bisa menjadi cluster baru penyebaran Covid di Lombok Barat,” terang Ahkam.

Untuk itu esok hari sebagai puncak Lebaran Topat, kata Ahkam, pihak Dinas Pariwisata dan perangkat Daerah lainnya dengan didukung oleh TNI/Polri masing-masing akan standby di obyek wisata untuk melakukan pengawasan.

“Kita juga meminta Polri melakukan  rekayasa lalu lintas (lalin),” terang Ahkam sambil menyebutkan beberapa titik krusial di wilayah Lombok Barat seperti di daerah Nyurlembang atau Suranadi di Narmada, Meninting di Batulayar, Midang Gunung Sari dan Kekeri, Sayang-Sayang untuk Lingsar, Simpang Lima Gerung,  Sembung di Lembar, Sekotong, dan beberapa titik akses lainnya.

Di tempat yang sama, Kasat Pol PP Baiq Yeni S. Ekawati mengatakan hal yang senada.

“Saya sudah  berkomunikasi dengan Kabag Operasi Polres, di mana titik tempat kita mengatur kedatangan dari pengunjung,” katanya. 

Kata dia, dengan mengatur dari hulu maka pengunjung langsung bisa dibatasi aksesnya menuju tempat-tempat wisata.

“Kita tidak bisa sepenuhnya melarang, namun kita menghimbau. Mungkin juga dengan mencari kesalahan pengunjung yang sekecil-kecilnya sehingga mereka bisa kita arahkan untuk kembali. Kita akan tanyakan SIM-nya, KTP-nya ada atau tidak. Kalau KTP-nya dari daerah lain, kita suruh rekreasi ke alamat asalnya saja dan jangan rekreasi di hari itu ke wilayah Lombok Barat. Termasuk juga yang tidak menggunakan masker,” terangnya. (Reza Rasasto Watimena)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: