Catatan Kritis Akademisi SKSG UI Pada Pelaku Teror Pemasok Bahan Peledak melalui E-Commerce’s

Foto: Ketua Pusat Studi Kajian Terorisme, SKSG UI, M. Syauqillah. Ph. D

Dengan ditangkapnya  KDW (29) Alias Abu Aliyah Al Indunisy oleh Detasemen khusus (Densus) 88 Antiteror Polri Indunisy, sebagai penyuplai bahan bahan kimia yang digunakan untuk membuat bahan peledak bom oleh sejumlah tersangka terorisme  melaui sejumlah website dan akun Ecommerce untuk menjajakan bahan peledak bom yang digunakan para teroris. Dimana beberapa akun yang terdeteksi oleh  Densus 88 yaitu  Shopee (https://shopee.co.id/bisakimia), kemudian satu akun Bukalapak (https://www.bukalapak.com/u/krisnadwi), Tokopedia  (https:// www.tokopedia.com/bisakimia), serta satu akun Youtube (https://youtube.com/c/Bisakimia12).

Dalam akun Youtube milik KDW,tersebut banyak  diunggahan video–video tentang eksperimen mengenai uji coba meracik bahan kimia yang dapat menjadi sebuah referensi untuk membuat bahan peledak bom.

Ini menjadi catatan terbaru bagi kita semua bahwa ,masih banyak pihak pihak yang masih bermain- main dan mencari kesempatan untuk mengganggu keamanan dan ketertiban NRI (Negara Republik Indonesia ) di saat masyarakat Indonesia sedang konsentrasi dalam mengatasi Pandemi Covid 19 yang meningkat kembali dengan varian barunya.
Ketua Pusat Studi Kajian Terorisme, SKSG UI, M Sauqillah. Ph.D mencoba menganalisa dengan menyatakan bahwa  setidaknya ada lima faktor yang menyebabkan bahan begitu mudah diakses melalui ritel di marketplace maupun toko kimia Pertama, belum adanya regulasi yang mengatur bagaimana perizinan, distribusi dan pengawasan bahan kimia dan pupuk yang berpotensi digunakan sebagai bahan peledak. Kedua, sinergitas kementerian/lembaga di ranah kesiapsiagaan nasional untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan bahan kimia dan pupuk.“Ketiga, penggunaan teknologi cyber untuk mendeteksi potensi ancaman aksi terorisme, dimana dalam kasus kali ini, pelaku dengan mudah mengunggah tutorial yang sangat sensitif, bahkan faktor yang tidak kalah penting adalah ideologi dan ini menjadi faktor keempat yang perlu diantisipasi karena. “Pemahaman Salafi-Jihadi berpaham takfiri menjadi energi dan motivasi melakukan atau membantu sekaligus menyediakan sarana aksi terorisme,”  juga.

Faktor kelima, menurut M. Syauqillah. Ph.D bahwa jaringan Bogor dalam riset Program Studi Kajian Terorisme adalah jaringan yang hampir tak pernah absen dengan berbagai perannya di beberapa aksi terorisme di Indonesia. Dan mengapa kejadian ini sering berulang karena sejauh ini pemerintah lemah dalam pengawasan regulasi terkait distribusi bahan kimia dual use.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *