
Denpasar, aspirasipublik.com – Jumat, 12 Desember 2025. Universitas Udayana meluluskan Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte, S.IP., M.Sos., Sebagai Doktor Ilmu Hukum dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Ruang C5, Melalui disertasi berjudul Hakekat Pengaturan Robot dan Kecerdasan Buatan di Indonesia dan dinyatakan lulus dengan IPK 3,89 dan tercatat sebagai doktor ke-168 Fakultas Hukum Universitas Udayana, Dengan Novelty regulasi baru bagi kecerdasan buatan yang ia sebut Teori PARADIXIA.

Tim Promotor dan Penguji terdiri dari: 1. Prof. Dr. I Putu Sudarma Sumadi, S.H., SU., 2. Prof. Dr. Drs. Yohanes Usfunan, S.H., M.Hum., 3. Dr. I Nyoman Bagiastra, S.H., M.H., 4. Nyoman Satyayudha Dananjaya, S.H., M.Kn., Ph.D., 5. Prof. Dr. Jimmy Pello, S.H., MS., 6. Prof. Dr. Desak Putu Dewi Kasih, S.H., M.Hum., 7. Prof. I Gusti Ngurah Parikesit Widiatedja, S.H., M.Hum., LLM., Ph.D., 8. Dr. I Made Dedy Priyanto, S.H., M.Kn.
Ketua sidang, Prof. Dr. I Putu Sudarma Sumadi, S.H., SU., menilai gagasan yang diajukan Efatha relevan dengan kebutuhan nasional dalam menghadapi perkembangan teknologi digital dan Penguji eksternal, Prof. Dr. Jimmy Pello, S.H., MS., menilai PARADIXIA sebagai kontribusi penting bagi pengembangan hukum teknologi Indonesia. Menurutnya, kerangka ini tidak hanya responsif terhadap risiko AI, tetapi juga mampu mengarahkan pembentukan kebijakan jangka panjang,Serta Promotor, Prof. Dr. Drs. Yohanes Usfunan, S.H., M.Hum., menyatakan bahwa PARADIXIA memperkuat sintesis antara hukum positif, teori hukum, dan filsafat hukum merupakan tiga pilar utama pendidikan doktoral FH Unud.
PARADIXIA: Arah Baru Regulasi AI Berbasis Nilai Nasional,Efatha menyoroti adanya rechtsvacuum dalam pengaturan AI Indonesia. Untuk menjawab itu, ia memperkenalkan PARADIXIA, kerangka yang memadukan nilai Pancasila dengan prinsip governansi teknologi modern dan PARADIXIA mencakup sembilan elemen kunci: (Pancasila Ethic, Anthropocentric Law, Reflexive Humanity, Algorithmic Accountability, Digital Sovereignty, Informational Justice, eXistential Intelligence, Integrity of Ethics, dan Accountability Civilization.) .Kerangka ini menegaskan tiga hal: 1. AI harus berlandaskan nilai Pancasila., 2. Manusia tetap menjadi pengendali utama dalam keputusan krusial., 3. Pengembang wajib transparan dan bertanggung jawab atas risiko algoritma.
Tiered Liability: Instrumen Kebijakan untuk Risiko AI,PARADIXIA mengusulkan model tanggung jawab berjenjang yang dapat langsung diuji dalam konteks kebijakan: Risiko Tinggi: strict liability., Risiko Sedang: presumed liability., Risiko Rendah: negligence based.
Model ini memberikan peta tanggung jawab yang jelas dan adaptif terhadap variasi risiko teknologi.

Pengakuan Akademik dan Implikasi Kebijakan, Kontribusi Strategis bagi Indonesia, Seiring meningkatnya penggunaan AI di sektor publik, pendidikan, finansial, dan keamanan nasional, teori PARADIXIA dinilai mampu memberi arah bagi penyusunan regulasi yang lebih komprehensif dan adaptif.
Kerangka ini menggabungkan aspek etika, akuntabilitas, dan kedaulatan digital, menjadikannya relevan bagi pembuat kebijakan.
Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte, S.IP., M.Sos., adalah seorang akademisi, dosen Ilmu Politik di Universitas Udayana (Unud) (FISIP), serta aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, dikenal sebagai sosok yang bersemangat, menyukai tantangan, dan memiliki fokus pada pendidikan politik serta pengembangan karakter spiritual untuk kepemimpinan, sering menjadi pembicara atau moderator dalam acara-acara diskusi politik dan pengabdian masyarakat. (JSR Watimena@Hendra Kusumawati)



