
Jakarta, aspirasipublik.com – Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sukses menyelenggarakan webinar Nasional bertajuk “Strategi Lolos Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP)” untuk tahun anggaran 2026 pada Selasa, 21 April 2026.Kegiatan webinar ini menghadirkan dua narasumber pakar yakni Dosen STIPAN yang juga Kaprodi Magister Ilmu Pemerintahan STIPAN ,1.Dr. Marisa Permatasari, B.IT, MT, yang merupakan penerima hibah PDP dua periode, 2. Dr. Nurlaelah, ST, MT, seorang peneliti dan juga dosen di Universitas Nageri Jakarta.dan dimoderatori oleh Definitf Endrina Kartini Mendrofa, S.IP,M.IP .,(Dosen STIPAN)., pembawa acara MC Shindry Asyillah Zildjiany (Mahasiswi STIPAN Prodi Ilmu Politik) di damping oleh Candrika Pradipta Apsari, S.Sos ., Operator: Dasa Nugraha, S.Kom .,Serta Selaku Ketua panitia webinar Otti Ilham Khair, MH., M.Si.( Kepala LPPM STIPAN).
Dalam Pelaksanaan Webiner ini karena bersipat umum jadi banyakdihadiri oleh para Dosen pemula dari seluruh Indonesia dan para unsur mahasiswa/I serta dari kalangan masyarakat umum berlangsung dari pukul 08.30 dan selesai 11.30 Wib. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan Pengantar oleh Ketua STIPAN Dr. Sumarsono, MDM., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan utama dari webinar ini adalah untuk mengasah kemampuan para dosen peneliti pemula agar lebih berdaya saing.”Sebagai dosen pemula pasti adanya keraguan dalam memulai sebuah penelitian, namun semangat untuk belajar bersama-sama harus tetap dikedepankan. Forum ini tidak ada batasan antara guru dan murid, melainkan sebuah ruang untuk saling berbagi pengalaman dan membantu sesama rekan dosen,” ujar Sumarsono.
Guna memastikan pendampingan yang berkelanjutan, Ketua STIPAN menginstruksikan pembentukan grup WhatsApp (WAG) sebagai sarana konsultasi dan koordinasi. Melalui grup tersebut, para dosen diharapkan dapat saling membantu dan berbagi informasi mengenai perkembangan proposal riset mereka secara berkala, sehingga tidak ada dosen yang merasa berjuang sendirian dalam proses ini. Pada kesempatan tersebut Mantan Plt Gubernur DKI Jakarta ini juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh peserta yang hadir, baik dari lingkungan kampus STIPAN maupun perwakilan perguruan tinggi lain. Tak lupa, ia juga menyapa dan berterima kasih atas partisipasi aktif dari jajaran Pemerintah Daerah yang turut memantau jalannya kegiatan ini sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia di wilayah masing-masing. Secara khusus, Ketua STIPAN menyampaikan terima kasih kepada LPPM STIPAN atas keberhasilan terselenggaranya acara ini dengan matang.

Setelah sambutan Ketua STIPAN dilanjutkan ke Acara inti yaitu Paparan Ibu Dr. Marisa Permatasari, B.IT, M.T., Menjadi pembicara pertama dalam webinar yang membagikan panduan komprehensif mengenai langkah-langkah penulisan proposal hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) yang efektif dan kompetitif. Dalam materinya, Dr. Marisa Permatasari, B.IT, M.T., mengangkat tema “Step By Step Penulisan Proposal Hibah PDP”. Marisa menekankan bahwa penulisan proposal harus mengikuti aturan teknis yang ketat, mulai dari kesesuaian bidang ilmu hingga pemenuhan instruksi template yang disediakan. Salah satu aspek krusial di awal adalah penentuan judul yang harus jelas, spesifik, terukur, serta menyebutkan model analisis yang digunakan dengan batasan maksimal 20 kata. “Bagian ringkasan menjadi poin penting berikutnya karena berfungsi sebagai wajah dari penelitian yang diajukan kepada penelaah. Ringkasan ini dibatasi maksimal 300 kata dan harus mencakup empat poin utama secara eksplisit, yaitu urgensi penelitian, tujuan yang ingin dicapai, metode atau pendekatan yang digunakan, serta target luaran berupa publikasi ilmiah” ujar Marisa pada Selasa 21 April 2026.Selain itu, pengusul diwajibkan mencantumkan lima kata kunci yang relevan dan menggunakan format cetak tebal (bold) pada setiap poin ringkasan agar lebih mudah dibaca oleh reviewer.Dalam menyusun pendahuluan yang berbobot, pengusul dibatasi maksimal 1000 kata untuk menjelaskan latar belakang masalah, pendekatan pemecahan masalah, state-of-the-art, serta peta jalan (roadmap) penelitian lima tahun.
Dr. Marisa Permatasari, B.IT, M.T., mengingatkan agar pendahuluan didukung oleh sitasi dari jurnal terakreditasi baik nasional maupun internasional menggunakan sistem Vancouver dan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley. Representasi visual berupa gambar atau ilustrasi juga sangat disarankan untuk menggambarkan kondisi terkini atau status permasalahan yang diteliti.Pentingnya kebaruan (novelty) ditekankan pada bagian state-of-the-art dengan cara memetakan penelitian terdahulu dan menunjukkan keunggulan solusi yang ditawarkan. “Sebagai contoh, penelitian mengenai transformasi desa digital saat ini banyak berfokus pada infrastruktur dan dukungan pemerintah, namun masih jarang yang menganalisis kemampuan adaptasi SDM secara mendalam,” lanjutnya.
Lebih lanjut Kaprodi Magister Ilmu Pemerintahan ini mengatakan metode penelitian juga harus dijabarkan secara detail, mencakup pendekatan pengumpulan data, jumlah informan atau responden, hingga alat analisis yang digunakan. Bagian ini juga harus menjelaskan pembagian peran yang spesifik antara ketua peneliti dan anggota, yang maksimal terdiri dari tiga orang dosen serta dapat melibatkan mahasiswa sebagai pendukung. Keseluruhan metode ini harus konsisten dengan tahapan penelitian yang dibuat dalam bentuk ilustrasi alur kerja agar memberikan gambaran pelaksanaan yang sistematis.Aspek manajerial yang tidak kalah penting adalah sinkronisasi antara jadwal penelitian, tahapan kerja, dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). “Untuk hibah PDP, dana penelitian maksimal yang dapat diajukan adalah Rp50.000.000 dengan ketentuan persentase tertentu pada tiap pos belanja. Aturan mainnya meliputi honorarium maksimal 25%, biaya perjalanan maksimal 25%, biaya lain-lain maksimal 10%, dan porsi terbesar dialokasikan untuk Bahan Habis Pakai (BHP) dengan minimal 40% dari total anggaran,” paparnya.Sebagai penutup, Dr. Marisa Permatasari, B.IT, M.T ,memberikan daftar “Do’s & Don’ts” untuk meminimalisir kesalahan administratif dan substantif yang sering terjadi. Pengusul wajib memastikan skor SINTA tidak melebihi batas (maksimal 99) dan topik riset sesuai dengan isu strategis pemerintah saat ini. Sangat dilarang untuk mengubah template resmi yang telah disediakan atau melakukan pengiriman proposal (submit) terlalu dekat dengan waktu tenggat untuk menghindari kendala teknis pada sistem.
Menjadi pembicara Kedua dalam paparannya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menegaskan komitmennya dalam mentransformasi ekosistem riset nasional dari yang semula berbasis publikasi karya ilmiah (paper-based) menjadi berbasis produk nyata (product-based). Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Nurlaelah, ST., MT., seorang Reviewer Hiliriset KEMENDIKTISAINTEK yang juga Dosen Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dr. Nurlaelah, ST., MT., menyampaikan pemaparan dengan tema “Strategi Akselerasi Hilirisasi Riset: Bedah Perspektif Reviewer dalam Memenangkan Hibah Kemendiktisaintek” dalam pemaparannya menekankan bahwa langkah Kemendiktisaintek ini diambil guna memastikan hasil penelitian perguruan tinggi tidak lagi berakhir di perpustakaan, melainkan dapat menjawab tantangan industri dan kebutuhan masyarakat luas. Visi 2026 ini menempatkan peneliti sebagai agen solusi bagi permasalahan bangsa secara konkret.
Dalam webinar tersebut, Dr. Nurlaelah, ST., MT. mencontohkan banyaknya kegagalan proposal riset hilirisasi sering kali disebabkan oleh fenomena “Death Valley” dimana banyak riset terhenti di tingkat kesiapan teknologi (TKT) rendah karena peneliti kurang siap menghadapi skala industri serta lemah dalam analisis pasar. Oleh karena itu, integritas data dan bukti dukungan fisik prototipe menjadi instrumen penilaian vital bagi tim reviewer dalam menyaring kualitas inovasi nasional.”Tahun ini, pemerintah sangat selektif dengan menetapkan lima bidang prioritas utama, yakni kedaulatan pangan dan energi, ekonomi hijau dan biru, kemandirian kesehatan, serta transformasi digital. Proposal yang diajukan wajib selaras dengan tema-tema strategis tersebut untuk memberikan dampak luas. Reviewer menggunakan kacamata “4K”, Kelayakan, Keberlanjutan, Kemanfaatan, dan Kepatuhan sebagai standar utama dalam membedah potensi keberhasilan sebuah riset yang diusulkan,” ujarnya.
Labih lanjut Dr. Nurlaelah, ST., MT. mengatakan, sisi ekonomi kini menjadi pilar yang tidak terpisahkan, di mana pengusul disarankan menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC) untuk memetakan nilai jual dan rencana komersialisasi produk. Hal ini dilakukan agar biaya produksi tetap masuk akal dan memiliki rencana monetisasi yang jelas, baik melalui lisensi maupun penjualan langsung. Tanpa strategi bisnis yang matang, produk riset dinilai akan sulit bertahan di pasar kompetitif setelah masa hibah berakhir.Selain inovasi produk, Kemendiktisaintek memperketat integrasi antara riset dengan pendidikan melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Setidaknya 3 hingga 5 mahasiswa harus dilibatkan secara fungsional untuk mendukung Indeks Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Kolaborasi lintas lembaga dan pemanfaatan laboratorium bersama, seperti dengan BRIN, juga sangat didorong untuk memperkuat sinergi sumber daya nasional.
Sebagai penutup, Dr. Nurlaelah, ST., MT., mengingatkan para akademisi untuk menghindari beberapa larangan seperti melakukan copy-paste proposal lama atau mengklaim ketiadaan kompetitor di pasar. Kunci utama memenangkan hibah terletak pada pembentukan tim multidisiplin yang memiliki rekam jejak relevan dan pembagian tugas yang spesifik. Strategi hilirisasi riset bukan sekadar soal kehebatan teori, melainkan tentang bagaimana solusi tersebut benar-benar siap dibawa ke dunia nyata demi masa depan Indonesia.
Selanjutnya acara dilanjutkan tanya jawab dengan seluruh peserta webinar dan selanjutnya Webiner ini ditutup oleh Wakil Ketua STIPAN Bapak Dr. Rajanner P. Simarmata, M.Si. dalam penutupannya beliau mengatakan bahwa pelaksanaan webinar ini sangat luarbiasa yang menjelaskan tentang masih banyaknya dosen pemula yang menemui kesulitan dalam memahami tata cara penyusunan proposal secara komprehensif. “Banyak usulan yang ditolak karena kesalahan umum atau kurangnya pemahaman mengenai strategi seleksi. Oleh karena itu, webinar ini bertujuan untuk memberikan panduan teknis serta kiat praktis agar para dosen mampu merumuskan kebaruan riset dan peta jalan (roadmap) penelitian yang kuat dengan perencanaan yang matang, diharapkan budaya riset di lingkungan perguruan tinggi semakin kuat dan jumlah proposal yang lolos pendanaan hibah meningkat secara signifikan pada periode tahun ini. (JSR Watimena@Hendra Kusumawati)





