Senyum Abadi Sang “Smiling Politician”

Oleh Lalu Gita Ariadi

Tanggal. 12 Juni 2021 lalu, hari terakhir saya berjumpa Bapak H. Muhammad Amin, SH. M.Si. – Wakil Gubernur ke 5 NTB

Seakan sama – sama ingin melepas rindu, Pak Amin demikian kami biasa menyapanya, mengundang kami rombongan pejabat pemprop NTB mampir ke kediamannya untuk santap siang.

Waktu itu kami ramai – ramai ke Sumbawa Besar hadiri acara pemakaman Almarhumah Hj. Siti Fatimah Ungang Dea Mas – ibunda Bapak Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah.

Dalam 3 jam reuni dadakan dan dialog, kami menangkap kesan kuat, tak ada yang berubah pada sosok Pak Amin. Masih sehat dan energik.  Stylenya kala menjadi wakil gubernur tetap tak berubah. Pimpinan yang hangat, terbuka, bersahaja, tak berjarak, pandai mendengar dan selalu tersungging senyumnya yang khas. Sang Politisi yang murah senyum.

Kalo bertemu, lebih sering terdengar gelak tawa dibanding hening kernyitkan dahi. Suasana diskusi di ruang kerja wagub, rapat di pendopo panji tilar seakan berulang tiada beda dengan suasana sillaturrahmi terakhir di kediaman (villa) beliau di Raberas Sumbawa Besar itu.

Saya mengenal pak Amin diawal tahun 1990 an.  Waktu itu, Pak Amin adalah pengacara sumbawa yang hebat. Kami sering ngopi di kantornya di Brang Biji dekat bandara sultan Kaharudin Brang Biji. Kami sering ngobrol bersama. Kami sama-sama aktiv di KNPI Sumbawa era Bung AM Jihad (ketua), juga bersama Bung Syamsun Asir, Bung Burhanudin Salengke, Bung Majid Abdullah, Bung Jeff, Abah Mang, Oni Pasirlaut, Towe dan lain2.

Meski sama – sama aktivis, tapi sering kali kami berada pada sisi yang bersimpangan.

Perbedaan perspektif bisa jadi karena perbedaan posisi. Saya berada di lingkar kekuasaan (inner circle) sebagai staf juru bicara (humas) Pemkab Sumbawa di era Bupati Kolonel Jakob Koswara (almarhum). Sedangkan pak Amin adalah outsider yang rajin kritisi pemerintah. Era ini saya juga kenal dengan Bung Nurdin Ranggabarani, M. Jabir dll yang sedang nakal – nakalnya jadi orator jalanan.

Perbedaan posisi dan perspektif, hasilkan  dialektika yang cerdas dan dinamis. Berbeda tapi selalu merindu untuk bertemu. Perbedaan serius tdk membeku jadi batu sandungan yg mengganggu. Perbedaan selalu mencair karena kepintaran dan gaya humanis Pak Amin yang tetap senyum dalam membangun narasi.

Dalam sebuah momentum pilkada, saya menulis sebuah artikel berjudul: Antara Bang dan Bung Amin. Bang Amin kala itu adalah sebutan populer tokoh reformasi – personifikasi dari Prof Amin Rais. Politisi ulung yang memimpin gerakan reformasi, popularitas politik nya sedang hebat, tokoh sentral poros tengah tapi tidak maju jadi Presiden dan justru memberikan kesempatan itu kepada Gus Dur dengan berbagai pertimbangan dan dinamika yang mengiringinya.

Sedangkan Bung Amin tak lain dan tak bukan adalah politisi lokal sumbawa yang juga hebat yang kelak jadi suksesor Pak De Jari Djaelani memimpin DPD II Golkar Sumbawa dan pimpinan di Gedung Dewan Sumbawa jalan RA Kartini.

Saya tulis artikel itu agar Bung Amin yang politisi muda itu jangan maju ikut pilkada. Tetap saja dulu di jalur politik. Biarkan senior Bapak Drs. H. Latief Madjid yang maju jadi Bupati. Waktu itu pemilihan kepala daerah masih dilakukan oleh DPRD. Prediksi banyak pihak, kalo Bung Amin serius maju dan sukses melakukan konsolidasi penggalangan fraksi internal dewan, maka kans Bung Amin menjadi Bupati sangat besar.

Seperti biasa, gara – gara artikel itu kami pun terlibat perdebatan. Tapi saya bersyukur Bung Amin tidik marah, tidak juga benci. Bung Amin justru tertawa. Saya senang Bung Amin akhirnya tidak maju.   Sayapun senang Pak Latief Madjid terpilih jadi Bupati Sumbawa.

Tahun 1997, saya menulis artikel berjudul: Ketika Sumbawa Dibagi Dua. Lagi – lagi kami terjebak dalam perdebatan panjang. Saya yakinkan basis analitik saya adalah ilmu pemerintahan dan administrasi negara, untuk percepatan dan memperpendek rentang kendali pelayanan publik. Bukan tafsir politik atau polarisasi budaya. Sepat tetap sepat, singang tetap singang, tak ada laksana tembok berlin sebagai pembatas. Yang ada, pemerintah hadir lebih dekat layani rakyat.

Tahun 2008, ketika Pak Amin duduk di udayana sebagai wakil rakyat, kami bertemu kembali setelah lama tak jumpa. Dihadapan banyak kolega sambil ngobrol beliau sampaikan, Bung Gite ini musuh tapi dia saudara saya. Musuh karena sering menjadi lawan diskusi yang sering beda sudut pandang tapi kami tetap bersahabat katanya kala itu. Tak lupa Pak Amin juga cerita tentang polemik artikel cikal bakal terbentuknya Kabupaten Sumbawa Barat.

Tak diduga, 6 tahun setelah polemik, saya harus tanda tangan rekomendasi pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat. Waktu itu saya ketua DPRD Sumbawa. Sesuai aturan pemekaran/ pembentukan daerah otonomi baru, harus ada rekomendasi bupati dan ketua DPRD Kabupaten induk.  Pada waktu saya akan tanda tangan rekomendasi, saya terbayang wajah Lalu Gite, katanya.

Hal ini kami bahas dan cerita ulang kembali ketika 5 hari mendampingi Wakil Gubernur H. Muhammad Amin, SH., M.Si., tahun 2018 awal kunjungan kerja ke Ning Xia Tiongkok sebuah propinsi yang penduduk muslimnya paling banyak di china. Selama di Ning Xia, banyak hal di bahas termasuk sikap dan persiapannya hadapi pilkada Gubernur tahun 2018.

Satu hal yang justru tak dibahas adalah dengan siapa akan berpasangan. Saya akan setia hingga akhir menunggu petunjuk Pak Gubernur TGB katanya. Tapi apapun nanti saya juga adalah pimpinan parpol yang pasti harus menentukan sendiri langkah politik yang akan saya tempuh katanya.

Awal bulan Agustus ini, kesehatan Pak Amin baru kami ketahui dalam kondisi yang kurang baik.  Dirawat di RS Manambai Sumbawa Besar. Kami kaget, ketika viral di medsos, flayer urgen dari Sultan Kertapati bahwa Pak Amin butuh donor plasma konvalesen untuk golongan darah B. Kamis 5 Agustus 2021 pukul 20.35, dr. Eka Nurhandini Assisten 3 setda propinsi NTB melaporkan kondisi kesehatan Pak Amin yg malam ini menurun. Jumat dinihari (6 Agustus 2021) Pukul 04.18 Gubernur NTB – Dr. H. Zulkieflimansyah share di WAG Forum OPD yang berisi pejabat utama Pemprop NTB berita duka telah berpulangnya ke rakhmatullah Bapak H. Muhammad Amin, SH. M.Si. Innalillahi waa innailaihirojiun.

Sewaktu menjadi wakil gubernur, saya bersaksi Pak Amin sangat loyal dan setia ke TGB. Pak Amin pemimpin baik yang kini pergi meninggalkan kita semua dengan segala kebaikannya.

Saya teringat senyumnya yang sangat bersahabat. Saya ingin membalas senyum itu untuk menghantar perjalanannya yang panjang. Saya janji tidak ingin menghantarnya dengan kesedihan, walau itu ternyata sulit. Tetap terselip rasa sedih dan haru.

Selamat jalan sahabat, selamat jalan sang pemimpin, selamat jalan Smiling Politician.

 Semoga Allah SWT mengampuni salah khilafmu, menerima segala amal ibadahmu, menjadi ahli surga dan semua sanak keluarga tabah dan ihlas melepaskan kepulanganmu. Alfatehah. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *