Gencarkan Gerakan Cinta Lingkungan, Warga Jakarta Utara Diajak Manfaatkan Eko Enzim

Jakarta, aspirasipublik.com – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara kian menggencarkan gerakan cinta lingkungan melalui pemenfaatan eko enzim. Selain mengurangi volume sampah organik, eko enzim dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan rumah tangga yang tentunya ramah lingkungan karena tidak mengandung unsur kimia.

Walikota Kota Administrasi Jakarta Utara, Ali Maulana Hakim mengatakan eko enzim merupakan cairan berasal dari sampah oraganik seperti kulit buah dan sayur yang diproses secara fermentasi, yang hasilnya bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari mulai dari cairan pembersih, kesehatan, hingga pemupukan tanaman.

Dengan begitu, sosialisasi pemanfaatkan eko enzim ini akan semakin digencarkan sehingga melahirkan gerakan cinta lingkungan pada masyarakat.

“Rencananya dari tingkat kota akan memberikan himbauan dan edaran sosialisasi kepada ASN (Aparatur Sipil Negara) dan masyarakat supaya ini menjadi suatu gerakan. Mudah-mudahan kita semakin cinta lingkungan dan cinta kepada bumi,” kata Ali saat ditemui di Kantor Walikota Administrasi Jakarta Utara, Selasa (7/9).

Dalam proses sosialisasi ini, direncanakan akan menggandeng organisasi Eco-Enzyme Nusantara. Mereka akan menjelaskan secara detail proses pembuatan hingga pemanfaatan eko enzim kepada masyarakat pada enam kecamatan di Jakarta Utara, baik secara langsung maupun dalam jaringan (daring).

“Cairan ini bisa mengganti misalkan produk pembersih berbahan kimia yang biasa kita gunakan. Masyarakat kami ajak untuk memanfaatkan sampah kupasan kulit buah atau sayuran (tidak dibuang) dan bisa kita manfaatkan menjadi eko enzim. Dari gerakan ini akan timbul peduli lingkungan dan hasil eko enzim yang kita manfaatkan juga tidak merusak lingkungan karena bukan dari unsur kimia,” jelasnya.

Wakil Ketua II Dewan Pengurus Pusat (DPP) Eco-Enzyme Nusantara, Paul Iskandar menegaskan produk Eko Enzim ini merupakan hasil penemuan Pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand, Dr. Rosukon Poompanvong sekitar 1980 lalu dan diperkenalkan secara luas oleh peneliti Naturopathy, Penang, Malaysia, Dr. Joean Oon.

Dipastikan produk eko enzim ini tidak dikomersialisasikan melainkan hanya sebagai bahan sosialisasi, baik proses pembuatan maupun pemanfaatannya bagi masyarakat.

“Yang jelas eko enzim ini merupakan hasil penelitian sejak tahun tiga puluh tahun lalu dan tidak boleh dikomersialisasikan. Kami akan membantu Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara untuk sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat,” tegasnya.

Dia menerangkan, produk yang berasal dari hasil tiga bulan fermentasi sampah organik (kulit buah atau sayur), gula, dan air dengan perbandingan masing-masing 1:3:10 ini memiliki beragam penggunaan mulai dari lingkungan hidup, kesehatan, hingga pemupukan tanaman.

Dengan begitu, produk eko enzim ini dapat mengurangi volume sampah organik di DKI Jakarta serta mengurangi penggunaan produk rumah tangga berunsur kimia yang dapat merusak lingkungan.

“Produk eko enzim ini hanya satu, tapi bisa kita campurkan dengan air untuk menghasilkan produk lainnya semisal perbandingan satu mililiter eko enzim dengan empat ratus mililiter air bisa menjadi produk hand sanitizer dan satu mililiter eko enzim dengan seribu mililiter air bisa menjadi produk pembersih udara atau pupuk tanaman,” tutupnya. (Eduardus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *