July 2, 2022

Dua Mei Dua Ribu Dua Dua, Hari yang Penuh Makna

5 min read

Oleh: Petrus Polyando (02/05/2022)

Dua peristiwa penting dirayakan pada hari ini yaitu Hari Raya Idul Fitri 1443 H dan Hari Pendidikan Nasional. Sekilas euforia hari idul fitri lebih dominan dibanding dengan hari pendidikan, karena memang proses mencapai hari kemenangan bagi umat islam ini dilalui dengan ritual panjang puasa penuh selama sebulan. Dibalik itu, meskipun idul fitri merupakan hari keagamaan umat islam tetapi dalam perayaannya melibatkan banyak orang dari berbagai kalangan secara nasional. Lihat saja dengan idul fitri ada liburan nasional kemudian dimanfaatkan oleh siapa saja, tanpa melihat tempatnya, latar asal usulnya, latar agamanya, semua terjebak dalam suasana untuk melepas sejenak rutinitasnya dalam rangka ritual keagamaan, refreshing, silaturahmi, mudik, belanja ole-ole, dll. Bagi umat islam, sebulan lamanya mereka dilatih dan diuji keimanan dan ketaqwaannya melalui rahmadan yang kemudian memperoleh kemenangannya melalui hari idul fitri. Tentu secara psikologis orang akan lebih tergerak hati merayakannya sebagai bentuk ungkapan emosi jiwa di mana perjuangan sampai hari idul fitri telah nyata dilakukan melalui berbagai cobaan dan godaannya. Masing-masing orang memiliki kisahnya soal amalan dan perilaku mereka di masa bulan rahmadan. Ada yang merasa sedih, ada yang gelisah, ada yang kecewa, ada yang gembira, ada yang sukses dan sempurna menjalankannya, ada yang merasa belum sempurna sehingga bertekad menyempurnakannya pada tahun tahun yang akan datang.  Di atas semua perasaan tersebut ada hal positif dari momentum lebaran yaitu soal tekad dan kebangkitan untuk menjadi lebih baik.

Lalu bagaimana dengan hari pendidikan nasional atau Hardiknas? Melihat sejarahnya, penetapan hardiknas oleh pemerintah pada tahun 1959 sesungguhnya dalam rangka memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Dia adalah seorang tokoh pelopor pendidikan di Indonesia yang menentang diskriminasi kebijakan pendidikan oleh pemerintah Hindia Belanda dan memperjuangkan kesetaraan bagi warga pribumi pada masa itu. Sosoknya sangat dikenal dengan filosofi pendidikannya yang tertuang dalam Trilogi Pendidikan yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Setiap tahun memang dirayakan namun tidaklah semeriah hari kemerdekaan atau hari besar lainnya. Umumnya disemarahkan oleh kalangan tertentu saja seperti pelajar, mahasiswa atau kalangan dunia pendidikan saja di sekolah-sekolah atau kampus. Tentu ada banyak alasan atas hal tersebut dari berbagai perspektif. Barangkali salah satu alasannya adalah dinamika pendidikan nasional yang belum menjangkau semua masyarakat terutama mereka yang ada di pelosok, daerah terpencil, daerah pedalaman, pulau-pulau dan juga daerah perbatasan. Ini adalah realitas yang dihadapi bangsa soal pendidikan yang belum terpenuhi. Rezim demi rezim berlalu, kurikulum pun silih berganti namun bagi daerah tersebut tetaplah stabil dengan kondisinya yang memprihatinkan. Pendidikan yang baik dan berkualitas yang menjangkau mereka masih menjadi sebuah mimpi dan angan-angan belaka. Harapan akan penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik, memang selalu dikumandangkan pada event Hardiknas namun masih bersifat ritual seremonial. Itupun seolah hanya berlaku bagi daerah perkotaan yang telah tersedia segalanya dengan infastruktur dan daya dukung yang memadai. Sementara itu daerah-daerah tersebut di atas masih berjuang dengan segala keterbatasannya.

Deskripsi singkat terhadap kedua hari raya pada hari ini, sebenarnya ada benang merah yang bisa dihubungkan dalam kaitannya dengan upaya memuliakan manusia Indonesia seutuhnya. Yang satu mengembalikan manusia kepada fitranya atau sifat dasar baik untuk melakukan kebaikan sebagaimana awal diciptakannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Sedangkan yang satu membuat manusia menjadi lebih baik melalui proses dengan tujuan mendekatkan manusia kepada tingkat kesempurnaan (John Stuart Mill, 1806-1873M) atau memungkinkan tercapainya sebuah kesempurnaan (Plato, 429 SM-346M). Tampak keduanya hadir selaras baik Ilmu agama maupun pengetahuan modern sebagai sebuah upaya sadar untuk memfasilitasi manusia mencapai tujuan hidupnya pada keselamatan dan kebahagiaan. Ada hubungan jelas antara makna idul fitri dengan filosofi pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara yang kebetulan bersamaan pada hari ini 02/05/2022. Keduanya sama-sama memerdekakan manusia, di mana pendidikan bertujuan memerdekakan manusia dari belenggu kebodohan dan segala konsekuensi ikutannya, sedangkan ritual keagamaan melalui puasa dan idul fitri sesungguhnya memerdekakan manusia dari belenggu setan, nafsu dan dosa. Keduanya selaras membuat manusia dapat hidup di dunia dengan selamat dan bahagia, sekaligus akan hidup di akhirat dengan bahagia di sorga dan selamat dari neraka. Keduanya pun sebenarnya memiliki peran yang komplementer dalam rangka meningkatkan kualitas diri, bangsa dan berkontribusi bagi pemeliharaan dunia yang tertib. Ini terkait dengan hakikat puasa dan idul fitri yang membuat orang menjadi semakin terkendali hawa nafsu duniawi sehingga tidak akan serakah untuk bertindak sesukanya untuk ambisi egonya dan kepentingan dirinya. Demikian pula pendidikan membuat orang semakin sadar dan memahami kehadirannya bagi sesama dan lingkungannya sehingga akan selalu berusaha membuat dirinya semakin berkembang dan menjadi lebih bermanfaat bagi banyak orang. Jelas, keduanya sama-sama terhubung dan berkontribusi pada kepentingan terbesar manusia.

Hubungan kedua peristiwa besar yang tergambar melalui Idul fitri dan Pendidikan (hardiknas), bagi ilmuwan pemerintahan mengingatkan pada upaya menyelaraskan hidup manusia pada semua kondisi yang kacau-balau untuk menghadirkan perdamaian dan niat baik atau tujuan baik untuk setiap orang berdasarkan moral agama yang berkembang sebagaimana digagas oleh Clinton Roosevelt (1841). Jadi momentum hari ini sebenarnya memberikan pesan khusus kepada semua orang bahwa kebahagiaan dan terjaga keselamatannya merupakan tujuan hidup manusia yang terus diperjuangkan melalui proses secara kontinu (berkelanjutan dari waktu ke waktu), konvergen (berasal dari berbagai sumber) dan konsentris (disesuaikan dengan  identitas dan konteks hidup). Ini tentu sejalan dengan filosofi pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara (1889-1959).

Dapat dipahami bahwa hari ini merupakan hari yang penuh makna bagi proses hidup manusia yang mencakup tiga perspektif yaitu kepala, hati dan badan. Perspektif Kepala berkaitan dengan daya pengetahuan (kognisi), perspektif hati berkenaan dengan perasaan, sedangkan perspektif badan melekat dengan kepentingan kehendak (hasrat). Ketiganya merupakan kesatuan yang membangun manusia pada kesempurnaan yang mencakup pengetahuan, moral dan penimbangan yang meletakan pada kebenaran yang timbul dari penginderawian, keindahan yang timbul dari imajinasi dan kebaikan yang timbul dari kebebasan.

Dua peristiwa penting dalam satu hari ini memberikan pesan komplit mengenai proses penyempurnaan manusia mencapai tujuan hidupnya. Untuk itu menjadi layak dirayakan dengan sukacita, namun patut menjadi refleksi bersama bahwa keduanya masih harus diperjuangkan secara seimbang dalam kehidupan nyata setiap orang di hari-hari mendatang. Memeriahkan kedua hari besar ini bisa menjadi momentum kebangkitan nasional pasca pandemi terutama pemulihan pendidikan serta peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada yang maha kuasa. Selain itu dapat menjadi momentum baik meningkatkan Mutu Pendidikan dan memajukan kebudayaan melalui mudik, silaturahmi yang intinya adalah tercipta energi baik bagi semua orang untuk bergerak maju lebih percaya diri menjadi bangsa yang besar. SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI DAN SELAMAT HARI RAYA PENDIDIKAN NASIONAL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.